Pasar Petobo menjadi salah satu lokasi favorit warga Palu untuk berburu pakaian bekas atau cakar. Pasar ini hanya beroperasi setiap Senin dan Jumat, namun aktivitas jual beli tetap ramai.
Pengunjung datang sejak pagi untuk mencari pakaian dengan harga terjangkau. Meski tidak buka setiap hari, pasar ini tetap konsisten dipadati pembeli.
Baca Juga: Pedagang Optimistis Pasar Tavanjuka Segera Ramai, Tunggu Peresmian
Salah satu alasan Pasar Petobo diminati adalah harga yang jauh lebih murah dibandingkan toko pakaian atau pusat perbelanjaan modern.
Salah satu pedagang, Desi, mengatakan barang yang dijual terdiri dari cakar dan thrifting. Keduanya serupa, hanya saja pakaian thrifting biasanya sudah dicuci sebelum dijual.
“Harganya mulai dari Rp10 ribu untuk tiga potong sampai Rp50 ribu, tergantung jenis dan kualitas barang,” kata Desi.
Baca Juga: OJK, BEI, dan KSEI Tuntaskan Empat Agenda Reformasi Transparansi Pasar Modal
Desi mengungkapkan, sebagian besar pakaian yang dijual di Pasar Petobo merupakan barang impor. Pakaian tersebut didatangkan dari beberapa negara seperti Korea, Jepang, dan Bangkok.
Proses pengiriman memakan waktu sekitar dua minggu hingga barang tiba di Palu. Setelah itu, pakaian langsung dijual kepada masyarakat.
Meski menjual dengan harga murah, pedagang di Pasar Petobo mampu meraup omzet cukup besar. Dalam sehari, pendapatan bisa mencapai jutaan rupiah.
“Pendapatan bisa Rp1 juta sampai Rp5 juta dalam sehari, tergantung ramai tidaknya pembeli,” ujarnya.
Keberadaan Pasar Petobo menjadi solusi bagi masyarakat yang ingin tampil modis tanpa harus mengeluarkan biaya besar. Selain murah, kualitas pakaian juga masih layak digunakan.
Pasar ini pun terus menjadi pilihan utama warga untuk berburu pakaian bekas berkualitas dengan harga terjangkau.***
Editor : Muhammad Awaludin