Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Ketika Anak Muda Menjadi Barista: Profesi Kekinian Favorit Generasi Z

Annisa Wibdy • Jumat, 30 Januari 2026 | 14:20 WIB

PILIH JADI BARISTA: Barista Cafe Cozy, Nurfadhila, saat mengecek pesanan. Dia memilih menjadi barista  meskipun profesi ini sejatinya didominasi oleh laki-laki.
PILIH JADI BARISTA: Barista Cafe Cozy, Nurfadhila, saat mengecek pesanan. Dia memilih menjadi barista meskipun profesi ini sejatinya didominasi oleh laki-laki.
BARISTA adalah sebutan bagi orang yang membuat atau meracik kopi. Namun, di balik istilah sederhana itu, tersimpan sejarah panjang yang melintasi benua dan zaman. Jejak kopi sendiri bermula dari Etiopia sekitar tahun 800 M, sebelum menyebar ke dunia Arab, lalu masuk ke Eropa pada abad ke-16. Dari sana, kopi akhirnya sampai ke Indonesia pada akhir abad ke-17, dibawa oleh kolonial Belanda melalui Pulau Jawa, dan kemudian berkembang menjadi komoditas penting.

Sementara itu, istilah barista berasal dari bahasa Italia, yang secara harfiah berarti penjaga bar atau bartender. Istilah ini mulai digunakan di Italia pada awal abad ke-20, seiring dengan ditemukannya mesin espresso. Sejak saat itu, barista tidak lagi sekadar penyaji minuman, tetapi menjadi sosok terampil yang memahami teknik ekstraksi kopi, keseimbangan rasa, hingga penyajian.

Dalam perkembangannya, barista modern menjelma menjadi seniman kopi. Keahlian mereka tidak hanya sebatas menyeduh espresso, tetapi juga mencakup latte art, pemahaman karakter biji kopi, serta berbagai metode seduh manual yang kini semakin digemari.

Di Cafe Cozy, profesi barista dijalani dengan proses yang serius. Cafe Cozy memiliki tim internal khusus yang bertugas melatih para barista. Melalui sistem pelatihan ini, barista dibekali pengetahuan dasar kopi, teknik penyajian, hingga cara melayani pelanggan dengan baik.

Sejauh ini barista selalu di kenal dengan laki-laki yang meracik kopi tetapi sebutan barista juga untuk perempuan di era yang semakin berkembang perempuan juga mulai berada di profesi barista Salah satu barista di Cafe Cozy adalah Nurfadhila, perempuan berusia 18 tahun yang berasal dari Tolitoli dan merantau ke Palu. Di usia yang masih muda, Nurfadhila sudah akrab dengan mesin espresso dan ritme kerja di balik meja bar.

DI BALIK MEJA KERJA: Di tempat inilah Nurfadhila menghabiskan waktunya bekerja. Meracik kopi sebagai  barista membuatnya tertantang mempelajari banyak hal.
DI BALIK MEJA KERJA: Di tempat inilah Nurfadhila menghabiskan waktunya bekerja. Meracik kopi sebagai barista membuatnya tertantang mempelajari banyak hal.

“Tantangan terbesarnya itu belajar berbagai macam kopi dan melayani customer yang berbeda-beda,” ujar Nurfadhila.

Menurutnya, setiap pelanggan memiliki selera dan karakter yang tidak sama, sehingga barista dituntut untuk selalu siap dan bersikap ramah.

Selain memahami kopi, Nurfadhila juga belajar berkomunikasi dan mengelola emosi. “Kadang ada customer yang maunya cepat, ada juga yang banyak tanya. Di situ kita harus sabar,” katanya.

Bagi Nurfadhila, menjadi barista bukan hanya tentang meracik kopi, tetapi juga tentang proses belajar dan bertumbuh. Di Cafe Cozy, ia tidak hanya mempelajari teknik, tetapi juga nilai kerja sama dan tanggung jawab sebagai bagian dari tim.

Kini, barista bukan lagi sekadar profesi di balik meja kopi. Ia menjadi bagian dari budaya, ruang interaksi, dan pengalaman pelanggan. Di tangan barista muda seperti Nurfadhila, secangkir kopi tidak hanya menghadirkan rasa, tetapi juga cerita tentang perjalanan, pembelajaran, dan mimpi yang sedang dirajut.(cr4)

 

Editor : Nur Soima Ulfa
#barista #Cozy Cafe #Nurfadhila #weekend #Cafe Cozy #kopi