RADAR PALU– Debu halus dari aktivitas galian C dan asap pembakaran sampah menjadi ancaman sunyi bagi kesehatan warga Desa Labuan Lelea. Setiap hari, partikel-partikel itu terhirup tanpa disadari, perlahan menggerogoti paru-paru anak-anak, orang tua, hingga ibu rumah tangga.
Kondisi inilah yang mendorong puluhan mahasiswa keperawatan turun langsung ke desa tersebut. Sejak awal Januari hingga akhir bulan, mereka hadir bukan sekadar menjalankan tugas akademik, tetapi membawa misi melindungi kesehatan warga dari risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).
Sebanyak 36 mahasiswa diterjunkan dalam program Daerah Binaan yang menyasar langsung akar masalah kesehatan lingkungan. Debu dari lalu lintas truk galian C dan kebiasaan membakar sampah dinilai menjadi kombinasi berbahaya yang selama ini dianggap lumrah oleh masyarakat.
Wilayah Labuan Lelea dipilih setelah dilakukan pemetaan masalah kesehatan. Paparan debu yang terus-menerus, ditambah asap pembakaran sampah rumah tangga, menjadikan desa ini masuk zona rawan gangguan pernapasan.
Ketua Panitia kegiatan, Rabiah, menyebut perubahan perilaku menjadi tantangan terbesar. “Target kami sederhana tapi krusial, men-zero-kan asap dari pembakaran sampah,” ujarnya.
Bagi warga, membakar sampah selama ini dianggap solusi praktis. Namun di balik kepulan asap itu, risiko ISPA terus mengintai. Mahasiswa pun berupaya mengubah cara pandang masyarakat dengan pendekatan persuasif, dari rumah ke rumah.
Warga diajarkan memilah sampah organik dan non-organik, serta membuat lubang galian sampah agar limbah tidak lagi berakhir dibakar. Edukasi dilakukan perlahan, menyasar kesadaran bahwa udara bersih adalah investasi kesehatan jangka panjang.
Tak mudah mengubah kebiasaan yang telah berlangsung bertahun-tahun. Sebagian warga masih menolak, namun tim tetap mendata dan membuka ruang dialog. Pendekatan berkelanjutan dinilai lebih efektif ketimbang sekadar imbauan sesaat.
Program ini dirancang tidak berhenti dalam hitungan minggu. Selama tiga tahun ke depan, Labuan Lelea akan terus didampingi agar perubahan benar-benar terasa. Harapannya, angka ISPA menurun dan kualitas hidup warga meningkat.
Di tengah kepulan debu industri, kehadiran mahasiswa keperawatan menjadi sinyal bahwa kesehatan warga desa tidak boleh kalah oleh aktivitas ekonomi. Dari Labuan Lelea, upaya kecil ini diharapkan menular ke desa-desa lain yang menghadapi ancaman serupa.***
Editor : Muhammad Awaludin