Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

AS Kepung Minyak Iran, Harga Global Langsung Bergejolak

Muhammad Awaludin • Rabu, 22 April 2026 | 20:21 WIB
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent

RADAR PALU — Tekanan Amerika Serikat ke Iran makin keras. Dampaknya langsung terasa: harga minyak dunia bergejolak.

Langkah Washington tak main-main. Selain memperketat sanksi, AS juga mengancam kapal dan individu yang terlibat dalam jaringan minyak Iran.

Dilansir dari Anadolu, Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, menegaskan pemerintahannya akan terus menekan sektor vital Iran, terutama minyak yang menjadi tulang punggung ekonomi negara tersebut.

“Dalam hitungan hari, fasilitas penyimpanan di Pulau Kharg akan penuh dan sumur minyak Iran bisa dihentikan,” ujarnya. 

Baca Juga: Selat Hormuz Memanas, Iran Tembaki Kapal hingga Putar Balik—Ancaman Pasokan Minyak Dunia

Pernyataan ini menandai eskalasi baru dalam strategi “tekanan maksimum” yang dijalankan AS terhadap Iran.

Washington tidak hanya mengandalkan sanksi ekonomi biasa. Blokade angkatan laut terhadap pelabuhan Iran juga terus diperkuat untuk membatasi pergerakan ekspor minyak.

Langkah ini secara langsung menyasar sumber utama pendapatan Iran.

“Pembatasan perdagangan maritim Iran menargetkan sumber utama pendapatan rezim,” tegas Bessent. 

Baca Juga: Viral Kapal RI di Selat Hormuz Tanpa WNI, Pertamina Buka Suara soal Kru Asing

Tak hanya pemerintah Iran, AS juga memperluas targetnya ke pihak-pihak yang dianggap membantu transaksi minyak tersebut.

Individu, perusahaan, hingga kapal yang terlibat dalam perdagangan minyak Iran kini berada dalam radar sanksi.

“Setiap individu atau kapal yang memfasilitasi aliran ini berisiko terkena sanksi,” lanjutnya.

Kebijakan ini membuat situasi pasar energi global makin tegang. Para pelaku pasar merespons cepat dengan pergerakan harga yang fluktuatif.

Harga minyak dunia tercatat bergerak naik-turun dalam waktu singkat, mencerminkan ketidakpastian yang tinggi.

Di sisi lain, dinamika politik juga ikut memperkeruh situasi. Presiden AS, Donald Trump, mengumumkan perpanjangan gencatan senjata selama dua pekan dengan Iran. 

Baca Juga: Ancaman di Jalur Energi Dunia, Dua Kapal Pertamina Masih Tertahan di Selat Hormuz

Namun, keputusan itu tidak serta-merta meredakan ketegangan. Blokade angkatan laut tetap diberlakukan.

Artinya, meski ada jeda konflik secara formal, tekanan ekonomi terhadap Iran tetap berjalan.

Kondisi ini menciptakan paradoks di pasar global. Di satu sisi ada sinyal de-eskalasi, di sisi lain tekanan ekonomi justru meningkat.

Bagi pasar minyak, kombinasi ini memicu volatilitas yang sulit diprediksi.

Para analis menilai, jika tekanan terus berlanjut, pasokan minyak global bisa terganggu. Ini berpotensi mendorong harga naik dalam jangka menengah.

Sebaliknya, jika negosiasi berjalan dan sanksi dilonggarkan, harga bisa kembali stabil.

Situasi ini juga berdampak pada negara-negara pengimpor minyak, termasuk Indonesia. Kenaikan harga berpotensi menekan biaya energi dan inflasi domestik.

Di tengah ketidakpastian ini, satu hal menjadi jelas: konflik geopolitik masih jadi faktor utama yang menggerakkan pasar energi global.

Dan setiap kebijakan dari Washington atau Teheran bisa langsung mengguncang harga minyak dunia.***

Editor : Muhammad Awaludin
#sanksi ekonomi #iran #Amerika Serikat #minyak dunia #harga minyak