RADARPALU - Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Sulawesi Tengah, Glenn Nathaniel Pandelaki, menyampaikan bahwa penggunaan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS) terus berkembang pesat di tengah masyarakat.
Menurutnya, masyarakat saat ini mengharapkan sistem transaksi yang cepat, mudah, murah, aman, dan andal.
Glenn menjelaskan, sejak 2019 Bank Indonesia telah meluncurkan Quick Response Code Indonesia Standard (QRIS), yang menggabungkan beberapa QR menjadi satu standar sistem pembayaran nasional.
Baca Juga: KPP Pratama Palu Awali Peringatan Hari Pajak 2026 dengan Senam dan Voli Bersama
Sistem tersebut menghubungkan dan mengintegrasikan sistem pembayaran dengan tujuan mendukung integrasi pembayaran sekaligus memajukan perekonomian.
Ia mengungkapkan, berdasarkan data hingga Mei 2026, transaksi QRIS di Sulawesi Tengah telah mencapai 41 juta transaksi.
Jumlah tersebut telah melampaui total transaksi sepanjang tahun 2025 yang mencapai 37 juta transaksi.
“Jadi 41 juta ini lebih banyak daripada total transaksi QRIS di tahun 2025. Di tahun 2025 saja transaksi sudah mencapai 37 juta. Sekarang di posisi Mei itu sudah 41 juta,” ujar Glenn.
Menurutnya, capaian tersebut menunjukkan peningkatan sebesar 348 persen. Sementara dari sisi merchant atau pelaku usaha, jumlahnya telah mencapai sekitar 340 ribu merchant. Capaian itu menempatkan Sulawesi Tengah di peringkat ketiga di wilayah Sulawesi.
“Ini yang menciptakan pentingnya dan pesatnya ekosistem digital di Sulawesi Tengah,” katanya.
Selain itu, jumlah pengguna QRIS di Sulawesi Tengah telah mencapai 400 ribu pengguna atau meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya.
Dari segi sisi transaksi, Kota Palu menjadi daerah dengan kontribusi terbesar, yakni sebesar 41 persen atau sekitar 17 juta transaksi dari total transaksi QRIS di Sulawesi Tengah.
Pada kesempatan tersebut, Glenn juga menyampaikan bahwa Bank Indonesia menyelenggarakan QRIS Jelajah Kuliner Indonesia Tahun 2026 sebagai upaya mendekatkan penggunaan QRIS kepada masyarakat melalui sektor kuliner.
Baca Juga: Reny Lamadjido Ingatkan ASN Sulteng, Cegah Pelanggaran Sebelum Berujung Masalah Hukum
Menurutnya, sektor UMKM masih mendominasi penggunaan QRIS, sementara usaha kuliner mencapai sekitar 70 persen dari total UMKM di Sulawesi Tengah.
Melalui kegiatan tersebut, Bank Indonesia ingin mempromosikan sekaligus mendorong perkembangan kuliner, khususnya kuliner lokal, melalui pendekatan kreatif berupa edukasi, kampanye, dan kompetisi.
Glenn menjelaskan, QRIS Jelajah Kuliner Indonesia dirancang untuk generasi muda dengan melibatkan 10 tim yang seluruh anggotanya merupakan influencer berusia di bawah 30 tahun. “Kita harapkan menjadi pendorong generasi muda sebagai agen perubahan digital,” katanya.
Baca Juga: BPBD Sulteng Turunkan Tim ke Buol, Rumah Sakit Jadi Prioritas Pascagempa
Menurutnya, semangat kolaborasi juga menjadi kunci dalam pengembangan ekosistem digital, termasuk sinergi antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, dan berbagai pihak lainnya.
Glenn berharap kegiatan tersebut mampu meningkatkan literasi masyarakat, mendorong pengembangan UMKM khususnya sektor kuliner dan pariwisata, memperkuat peran generasi muda, serta meningkatkan sinergi seluruh pemangku kepentingan dalam mendorong ekosistem digital di Sulawesi Tengah.
“Semoga semua teman-teman diberikan kelancaran dan kesehatan dalam menjalankan misi-misi Jelajah Kuliner Indonesia Tahun 2026,” pungkasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi