RADARPALU – Program Social Entrepreneurship and Economic Development (SEED) kembali digelar di Kota Palu pada 2026.
Melalui program ini, generasi muda didorong membangun usaha yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan, tetapi juga mampu memberikan dampak sosial dan lingkungan yang positif bagi masyarakat.
Manager Inkubator Bisnis Kota Palu, Andi R. Hardiansyah, mengatakan bahwa program SEED berbeda dengan pelatihan kewirausahaan pada umumnya karena fokus pada pengembangan bisnis yang mampu memberikan dampak sosial maupun lingkungan bagi masyarakat.
Baca Juga: Guru P3K Diduga Cabuli Tiga Siswi SD di Palu, Polisi Lakukan Proses Penyelidikan
“Ini sebenarnya pelatihan wirausaha yang fokusnya adalah bisnis yang bisa memberikan dampak sosial maupun dampak lingkungan yang positif kepada masyarakat,” ujar Andi kepada Radar Palu pada Selasa (9/6/2026).
Menurut Andi, pada pelaksanaan program tahun ini terdapat 10 tim wirausaha terpilih yang mengikuti kegiatan. Setiap tim terdiri dari dua orang sehingga total peserta berjumlah 20 orang.
Kategori usaha yang terlibat cukup beragam, mulai dari usaha jasa, olahan pangan, produk ramah lingkungan, layanan pendidikan hingga industri kreatif seperti desain.
Baca Juga: BPOM Izinkan Obat Tertentu Dijual di Minimarket, Wagub Sulteng Minta Pengawasan Ketat
Selain menyasar pelaku usaha, program ini juga membuka ruang bagi komunitas pemuda maupun organisasi sosial yang ingin mengembangkan aktivitas bisnis guna mendukung keberlanjutan kegiatan sosial mereka.
Adapun syarat peserta program SEED yakni merupakan pegiat wirausaha sosial atau pegiat komunitas sosial, berusia di bawah 30 tahun, serta memiliki Kartu Tanda Penduduk (KTP) Kota Palu.
Meski demikian, Andi menjelaskan bahwa pihaknya tidak menutup kesempatan bagi komunitas atau bisnis yang dipimpin oleh individu berusia di atas 30 tahun. Namun, peserta yang mengikuti program diharapkan merupakan perwakilan yang berusia di bawah 30 tahun.
“Untuk komunitasnya atau bisnisnya kita tidak menutup kesempatan bagi yang lebih dari 30 tahun. Cuma kami lebih menyarankan kalau usianya di atas 30 tahun, perwakilan yang ikut kegiatannya adalah yang di bawah 30 tahun. Iya untuk mengembangkan wirausaha muda,”jelasnya.
Dalam pelaksanaannya, peserta mendapatkan berbagai materi penguatan kapasitas usaha. Mulai dari penyusunan bisnis secara komprehensif melalui Business Model Canvas, strategi pemasaran digital melalui media sosial dan marketplace, pembuatan website, hingga penyusunan laporan keuangan sederhana.
Andi menyebut sebagian besar peserta yang mendaftar merupakan komunitas yang telah memiliki usaha namun masih membutuhkan penguatan kapasitas bisnis.
Pada akhir program, peserta yang mampu menunjukkan perkembangan usaha serta memiliki proyeksi dan laporan keuangan yang baik akan mendapatkan dukungan lanjutan.
“Tahun kemarin kita coba hubungkan dengan dukungan bantuan usaha dari Pemerintah Kota Palu melalui Dinas UMKM, sehingga mereka mendapat bantuan usaha satu tim sebesar Rp5 juta,” katanya.
Tidak hanya itu, dua peserta dengan perkembangan terbaik dari total 20 peserta yang mengikuti program tahun sebelumnya juga memperoleh kesempatan belajar lebih lanjut mengenai kewirausahaan sosial di Filipina.
“Supaya bisa dapat bekal untuk mengembangkan usahanya,” katanya.
Program SEED sendiri merupakan kolaborasi yang didukung oleh Sasakawa Peace Foundation dari Jepang. Organisasi tersebut bergerak di bidang pembangunan perdamaian (peace building).
Menurut Andi, salah satu cara membangun perdamaian dan harmonisasi dalam kehidupan masyarakat adalah melalui pengembangan wirausaha sosial yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus dampak sosial dan lingkungan.
Sementara itu, Pemerintah Kota Palu turut memberikan dukungan melalui penyediaan fasilitas pelatihan, keterlibatan sumber daya manusia sebagai pelatih bersama tim Inkubator Bisnis Kota Palu, serta menghubungkan peserta dengan program bantuan pengembangan usaha dari Dinas UMKM.
Ke depan, Andi berharap semakin banyak anak muda di Kota Palu yang terlibat dalam aktivitas kewirausahaan, khususnya yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata.
“Harapan saya lebih banyak anak muda yang menggagas aktivitas wirausaha. Tapi wirausaha yang berbeda, bukan cuma orientasinya untung atau uang semata, tapi lebih mengedepankan bagaimana usaha tersebut bisa memberikan dampak ekonomi, dampak sosial, dan pelestarian lingkungan,” harapnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi