RADARPALU – Hannah Asa Indonesia akan menggelar kegiatan Smart Financial Journey yang menghadirkan ratusan anak muda Sulawesi Tengah di Hannah Homestay dalam waktu dekat. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari upaya edukasi literasi keuangan bagi generasi muda di daerah ini.
Founder Hannah Asa Indonesia, Mardiyah mengatakan bahwa tantangan keuangan yang dihadapi anak muda saat ini semakin besar seperti pendapatan yang sering naik turun dan tidak memiliki dana darurat.
“Kemudian banyak ternyata yang terlilit pinjaman online atau pinjol. Apalagi OMC ya,” ujar Mardiyah saat ditemui pada Senin (18/5/2026).
Baca Juga: Jembatan Penghubung Dua Desa di Kulawi Putus Diterjang Banjir, BPBD Sulteng: 30 KK Terisolir
Ia menyebut Sulawesi Tengah menjadi salah satu provinsi dengan korban OMC tertinggi di Indonesia. Karena itu, pihaknya ingin memperluas jangkauan edukasi literasi keuangan melalui kegiatan tersebut.
Pada kesempatan itu, dia menjelaskan bahwa Pemerintah Kota (Pemkot) Palu selama ini mendukung kegiatan edukasi literasi dan inklusi keuangan. Menurutnya, dukungan itu telah terjalin sejak dua tahun terakhir melalui komunikasi intensif dengan Wali Kota Palu, Hadianto Rasyid.
“kita pengen Kota Palu ini bisa menjadi salah satu kota yang menjadi role model di Indonesia Timur yang gencar melaksanakan edukasi literasi keuangan,” ujar Mardiyah.
Baca Juga: Poltekkes Kemenkes Palu Latih Pasutri di Sigi untuk Sukseskan ASI Eksklusif
Mardiyah mengungkapkan, berdasarkan survei Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2025, angka literasi keuangan berada pada 66,46 persen, sedangkan inklusi keuangan mencapai 80,51 persen.
“Ini artinya satu dari tiga orang tidak paham cara mengelola keuangan,” ujarnya.
Menurutnya, rendahnya literasi keuangan memicu berbagai persoalan, di antaranya doomspending dan financial stress. Doomspending disebut sebagai perilaku belanja karena dorongan stres, sementara financial stress merupakan kondisi ketika seseorang mengalami tekanan pikiran akibat masalah keuangan.
Baca Juga: Paripurna DPRD Kota Palu Awali Agenda Sidang Caturwulan II
Selain itu, berdasarkan riset yang dilakukan Hannah Asa Indonesia, hampir 70 persen anak muda yang mengikuti edukasi literasi keuangan belum memiliki dana darurat.
“Jadi pada saat misalnya ada kebutuhan mendesak, itu dia harus ambil pinjaman online,” katanya.
Dalam menjalankan programnya, Hannah Asa Indonesia berkolaborasi dengan Otoritas Jasa Keuangan, Bursa Efek Indonesia, universitas, serta berbagai komunitas.
Secara keseluruhan, Hannah Asa Indonesia telah menjangkau hampir 30 ribu peserta edukasi literasi keuangan di Sulawesi Tengah maupun wilayah Indonesia Timur lainnya seperti Lombok dan Nusa Tenggara.
Baca Juga: Menenun Fajar di Tepi Teluk Palu, Kisah Pembangunan Hadianto Rasyid
“Mulai tahun 2026 ini, anak muda Sulawesi Tengah mulai melek literasi keuangan,” tandasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi