RADARPALU – Transaksi QRIS di Kota Palu melonjak signifikan hingga menembus 37,3 juta transaksi sepanjang 2025, Bank Indonesia pun mulai mendorong pengembangan QRISTAP untuk mempercepat digitalisasi pembayaran.
Deputi Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Sulawesi Tengah (Sulteng), Glenn Nathaniel Pandelaki, mengungkapkan capaian tersebut dalam kegiatan High Level Meeting (HLM) Tim Percepatan dan Perluasan Digitalisasi Daerah (TP2DD) bersama Pemerintah Kota Palu.
“Dengan total merchant di Kota Palu juga sudah mencapai 101.000,” ujar Glenn kepada Radar Palu saat ditemui pada Rabu (29/4/2026).
Baca Juga: Kelurahan Diminta Produktif, Pemkot Palu Genjot Pangan dan Digitalisasi PAD
Ia menjelaskan, pada triwulan I tahun 2025, transaksi QRIS bahkan telah menyentuh angka 8,9 juta transaksi.
Angka tersebut meningkat sebesar 178 persen secara year on year dibandingkan periode sebelumnya.
Secara regional, Kota Palu masih mendominasi penggunaan QRIS di Sulawesi Tengah dengan kontribusi sebesar 43 persen dari total transaksi. “Penggunaan QRIS ini kita dorong di seluruh aspek sebagai alternatif pembayaran,” katanya.
Baca Juga: BAZNAS Palu Ubah Skema Bantuan, Tak Lagi Uang Tunai, Tapi Fokus Barang
Ia menambahkan, salah satu upaya pengembangan yang tengah dilakukan adalah implementasi QRISTAP. Inovasi ini memungkinkan transaksi dilakukan tanpa perlu login aplikasi di ponsel, melainkan cukup dilakukan tap.
“Ini sangat berguna khususnya untuk sektor transportasi maupun retail,” katanya.
Pengembangan QRISTAP saat ini juga diarahkan untuk diterapkan di pasar modern. Salah satu rencana yang tengah didorong adalah piloting pasar digital di Tavanjuka.
Selain itu, sektor transportasi juga menjadi perhatian dalam pengembangan sistem pembayaran digital tersebut.
Namun, hingga saat ini implementasi QRISTAP di sektor transportasi di Pulau Sulawesi baru tersedia di dua wilayah, yakni di Makassar dan Trans Donggala.
“Untuk Kota Palu sendiri belum, namun saat ini masih dalam tahap diskusi. Mudah-mudahan tahun ini bisa terealisasi,” ujarnya.
Menurut Glen, pengembangan sistem pembayaran digital ini diharapkan dapat mempermudah pelayanan kepada masyarakat sekaligus meningkatkan pendapatan asli daerah.
“Pada akhirnya, tujuan kita adalah memberikan kemudahan layanan kepada masyarakat serta mendorong peningkatan pendapatan daerah,” pungkasnya.(rna)
Editor : Mugni Supardi