Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Antusias Warga Palu Tinggi, Putu Cangkir Makassar Jadi Favorit

Rina Khalik • Rabu, 14 Januari 2026 | 20:38 WIB
JADI FAVORIT : Pedagang Putu Cangkir asal Makassar, Mursalin, saat menyiapkan putu cangkir untuk konsumen.
JADI FAVORIT : Pedagang Putu Cangkir asal Makassar, Mursalin, saat menyiapkan putu cangkir untuk konsumen.

RADAR PALU - Pedagang Putu Cangkir asal Makassar, Mursalin, mengaku bahwa pertama kali hadirnya putu cangkir di Kota Palu langsung mendapatkan antusias yang cukup tinggi dari masyarakat. Usaha kuliner tradisional tersebut resmi beroperasi sejak 2 Januari 2026 lalu.

Mursalin mengatakan, keputusannya membuka usaha di Palu didasari oleh peluang pasar yang masih terbuka lebar. Menurutnya, penjual putu cangkir yang disajikan dalam kondisi hangat masih terbilang jarang ditemukan di kota ini.

“Di Palu belum terlalu banyak yang jual putu cangkir panas seperti di Makassar. Makanya saya coba buka di sini,” ujar Mursalin kepada Radar Palu saat ditemui pada Rabu (14/1/2026).

Selain faktor peluang usaha, Mursalin juga memiliki kedekatan emosional dengan Kota Palu. Ia mengaku pernah menempuh pendidikan dan tinggal di Palu pada 2013, sebelum akhirnya kembali membuka usaha. Lapak di Palu merupakan cabang ketiga, setelah dua cabang lainnya beroperasi di Makassar.

Sejak hari pertama berjualan, lapak putu cangkir milik Mursalin langsung ramai pembeli. Ia menilai antusias warga Palu sangat tinggi. “Kalau saya lihat sendiri, warga Palu ini antusias sekali. Baru buka langsung ramai,” katanya.

Adapun varian yang dijual terdiri dari putu cangkir dan putu Ambon, dengan putu Ambon menjadi menu yang paling banyak diminati dan paling cepat habis.

Mursalin membuka lapaknya setiap hari mulai pukul 17.00 WITA hingga stok habis, biasanya sekitar pukul 20.00 hingga 21.00 WITA. Jika produksi ditambah, penjualan bisa berlangsung hingga pukul 22.00 WITA.

Untuk saat ini, produksi masih dibatasi sekitar 20 kilogram per hari. Harga jual ditetapkan sebesar Rp10 ribu per porsi dengan isi 5 Putu.

Dari hasil penjualan, omzet yang diperoleh cukup signifikan. Dalam sehari, ia mampu meraih pendapatan hingga 150 per stirofoam, angka yang disebutnya sebagai rekor tertinggi selama berjualan.

“Di Makassar paling tinggi 120 per stirofoam. Di Palu bisa sampai 150 bahkan 170,”jelasnya.

Melihat tingginya minat masyarakat, Mursalin mengaku memiliki rencana untuk menambah titik penjualan di Kota Palu ke depannya, apabila operasional sudah dapat dikelola dengan baik.

Ia berharap usahanya dapat terus berkembang dan semakin dikenal masyarakat luas, serta mendapat perhatian dari pemerintah daerah, khususnya dalam mendukung pelaku UMKM kuliner.

“Harapannya ke depan bisa lebih ramai lagi dan usaha ini bisa terus berkembang,” pungkasnya.(rna)

Editor : Mugni Supardi
#makassar #Ekonomi Kreatif #umkm #Kuliner #Jajanan Tradisional #Putu Cangkir