RADAR PALU - Pemerintah Indonesia mendesak Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk melakukan investigasi langsung terkait tewasnya tiga personel pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang tergabung dalam United Nations Interim Force in Lebanon (UNIFIL) akibat serangan di Lebanon selatan.
Desakan tersebut disampaikan oleh Perwakilan Tetap Indonesia untuk PBB, Umar Hadi, dalam pertemuan darurat Dewan Keamanan PBB yang digelar pada Selasa (31/3/2026).
“Kami menuntut investigasi langsung dari PBB, bukan sekadar penjelasan dari Israel,” tegas Umar dalam pernyataannya seperti dikutip dari Reuters.
Baca Juga: DJP Beri Kelonggaran Lapor SPT, Wajib Pajak Jangan Terlena
Pemerintah Indonesia sebelumnya telah memperingatkan bahwa operasi militer Israel di wilayah Lebanon selatan telah menempatkan pasukan penjaga perdamaian PBB dalam risiko besar.
Tiga prajurit Indonesia dilaporkan gugur dalam dua insiden terpisah di wilayah tersebut. Insiden ini terjadi setelah akhir pekan yang penuh kekerasan, di mana sejumlah jurnalis dan tenaga medis di Lebanon juga dilaporkan tewas akibat serangan militer Israel.
Kepala Operasi Penjaga Perdamaian PBB, Jean-Pierre Lacroix, menyatakan bahwa berdasarkan temuan awal investigasi, sebuah ledakan di pinggir jalan diduga menghantam konvoi dua pasukan Indonesia pada Senin.
Baca Juga: Penjualan Antibiotik Tanpa Resep di Sulteng Masih Tinggi, BBPOM Palu Ingatkan Bahaya Resistansi
Namun demikian, pihak militer Israel membantah keterlibatan dalam insiden tersebut.
Dalam pernyataannya, mereka menyebut bahwa hasil peninjauan internal menunjukkan tidak ada penempatan bahan peledak oleh pasukan Israel di lokasi kejadian, serta tidak ada personel mereka di area tersebut saat insiden terjadi.
Situasi keamanan di Lebanon selatan terus menjadi perhatian internasional, terutama terkait keselamatan pasukan penjaga perdamaian yang bertugas di wilayah konflik tersebut. (*)
Baca Juga: Lonjakan Kebutuhan Saat Event Picu Kenaikan Harga Pangan di Palu
Editor : Agung Sumandjaya