RADAR PALU - Kapal Pertamina menjadi sorotan di tengah krisis Selat Hormuz setelah dua armada strategis Indonesia tertahan di jalur utama distribusi minyak dunia.
Di balik memanasnya konflik Timur Tengah, ada dampak langsung yang kini mengintai Indonesia. Dua kapal tanker milik PT Pertamina International Shipping (PIS) dilaporkan berada di kawasan rawan Selat Hormuz.
Kapal tersebut adalah Pertamina Pride dan Pertamina Gamsunoro. Keduanya memiliki peran penting dalam menjaga kelancaran distribusi energi, baik untuk kebutuhan dalam negeri maupun pasar global.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran baru terkait ketahanan energi nasional, terutama jika konflik berkepanjangan.
Peran Vital Dua Kapal Raksasa
Pertamina Pride dikenal sebagai kapal tanker raksasa jenis Very Large Crude Carrier (VLCC). Kapal sepanjang 330 meter ini mampu mengangkut hingga 2 juta barel minyak mentah.
Perannya sangat krusial untuk memastikan pasokan energi tetap stabil di dalam negeri. Kehadirannya juga membantu mengurangi ketergantungan pada kapal asing.
Di sisi lain, Pertamina Gamsunoro beroperasi sebagai kapal tanker kelas Aframax. Dengan kapasitas besar dan fleksibilitas tinggi, kapal ini aktif melayani distribusi energi di berbagai jalur internasional.
Selat Hormuz Memanas
Krisis di Selat Hormuz menjadi pemicu utama situasi ini. Sejak konflik pecah pada akhir Februari 2026, Iran memperketat pengawasan di jalur tersebut.
Selat Hormuz merupakan jalur strategis yang dilalui sekitar 20 juta barel minyak setiap hari. Ketegangan di wilayah ini langsung berdampak pada rantai pasok energi global.
Tak hanya itu, rencana penerapan biaya tol bagi kapal yang melintas juga menambah tekanan. Nilainya disebut mencapai puluhan miliar rupiah per kapal.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak hingga menembus USD 100 per barel. Dampak lanjutan mulai dirasakan di berbagai negara, termasuk Asia.
Diplomasi Jadi Harapan
Di tengah situasi yang belum menentu, pemerintah Indonesia mengandalkan jalur diplomasi. Kementerian Luar Negeri bersama KBRI Teheran terus berupaya membuka komunikasi dengan otoritas Iran.
Pjs Corporate Secretary PIS, Vega Pita, menyebut koordinasi dilakukan secara intensif. Fokus utama saat ini adalah memastikan keselamatan awak kapal dan keamanan aset.
“Pembahasan teknis terus dilakukan agar kapal Pertamina bisa melintasi Selat Hormuz dengan aman,” ujarnya.
Respons awal dari pihak Iran disebut cukup positif, meski kondisi di lapangan masih berubah cepat.
Ujian Ketahanan Nasional
Kasus kapal Pertamina yang tertahan ini menjadi pengingat bahwa krisis global bisa berdampak langsung ke dalam negeri. Ketahanan energi Indonesia kini benar-benar diuji.
Selain faktor geopolitik, kelancaran distribusi minyak menjadi kunci stabilitas ekonomi. Jika gangguan berlanjut, efeknya bisa meluas hingga ke harga BBM di dalam negeri.
Pemerintah dan Pertamina kini berpacu dengan waktu agar situasi segera terkendali dan kapal bisa kembali berlayar.
Editor : Muhammad Awaludin