RADAR PALU - Infeksi saluran kemih kerap dianggap gangguan ringan. Namun, pada kondisi tertentu, penyakit ini bisa berkembang menjadi komplikasi serius jika tidak ditangani dengan tepat sejak awal.
Dokter spesialis penyakit dalam Prof. Zubairi Djoerban menjelaskan, risiko fatal memang jarang terjadi, tetapi meningkat pada pasien dengan diagnosis terlambat dan pengobatan yang tidak dijalani secara tuntas.
Menurut Prof. Zubairi, infeksi saluran kemih pada dasarnya dapat disembuhkan. Kunci utamanya adalah diagnosis dini dan kepatuhan terhadap terapi antibiotik sesuai anjuran dokter.
Ia mengingatkan pasien agar tidak menghentikan konsumsi antibiotik sebelum pengobatan dinyatakan selesai, meski keluhan sudah berkurang.
“Penyebab kematian bukan infeksinya langsung, tetapi sepsis. Bakteri masuk ke pembuluh darah dan menyebabkan infeksi di seluruh tubuh,” ujarnya.
Selain sepsis, infeksi saluran kemih juga dapat memicu gagal ginjal, terutama bila disebabkan batu ginjal atau infeksi berulang yang tidak tertangani dengan baik.
Risiko ini lebih tinggi pada kelompok usia lanjut, khususnya mereka yang memiliki penyakit penyerta seperti diabetes dan hipertensi.
“Pada kelompok ini, infeksi saluran kemih lebih mudah terjadi dan lebih cepat menimbulkan komplikasi, termasuk kebutuhan cuci darah,” jelas Prof. Zubairi.
Ia menambahkan, pola kasus serupa tidak hanya ditemukan di Indonesia, tetapi juga di berbagai negara lain, termasuk Amerika dan Eropa.
Karena itu, masyarakat diminta lebih peka terhadap gejala awal seperti anyang-anyangan, sering buang air kecil terutama malam hari, atau rasa tidak tuntas saat berkemih.
“Kalau keluhan itu muncul, sebaiknya segera periksa. Dengan penanganan dini, infeksi saluran kemih bisa sembuh,” tegasnya.
Di tengah meningkatnya prevalensi diabetes dan hipertensi di Indonesia, infeksi saluran kemih menjadi salah satu penyakit yang perlu diwaspadai, terutama pada kelompok lansia. Deteksi dini dinilai penting untuk menekan risiko komplikasi dan beban layanan kesehatan.***
Editor : Muhammad Awaludin