RADAR PALU - Belakangan ini, banyak orang tampak memilih diam. Bukan karena tak peduli, melainkan sebagai cara menjaga diri dari situasi yang terasa semakin melelahkan.
Di ruang digital maupun kehidupan sehari-hari, sikap menahan respons, mengurangi komentar, atau sekadar mengamati dari jauh kian sering ditemui. Fenomena ini pelan-pelan menjadi bagian dari keseharian.
Di media sosial, sebagian pengguna kini lebih sering membaca dibandingkan berkomentar. Dalam percakapan langsung, keputusan penting pun kerap ditunda, bahkan untuk hal-hal yang sebelumnya dianggap sepele.
Sejumlah kajian psikologi menyebut perilaku tersebut sebagai respons adaptif. American Psychological Association (APA) menjelaskan, menarik diri sementara dapat menjadi mekanisme bertahan ketika individu menghadapi tekanan emosional yang terus-menerus.
Dalam psikologi, pola ini dikenal sebagai coping mechanism, yakni cara seseorang melindungi kestabilan mental saat beban pikiran terasa berlebih. Diam, dalam konteks ini, bukan tanda menyerah, melainkan upaya menjaga keseimbangan.
Tekanan tersebut tidak selalu hadir dalam bentuk masalah besar. Rutinitas yang padat, ketidakpastian ekonomi, serta paparan informasi tanpa jeda disebut para peneliti cukup untuk menguras energi psikologis.
Kajian dalam Journal of Computer-Mediated Communication juga mencatat meningkatnya fenomena silent reader di ruang digital. Banyak orang tetap aktif mengonsumsi informasi, namun memilih tidak terlibat dalam diskusi atau perdebatan terbuka.
Dalam perspektif sosiologi modern, kondisi ini sejalan dengan pandangan ilmuwan sosial Zygmunt Bauman tentang masyarakat yang hidup dalam ketidakpastian. Situasi tersebut mendorong individu untuk lebih berhati-hati dalam bersikap dan berekspresi.
Pengamat sosial di Indonesia pun menilai kecenderungan ini sebagai bentuk seleksi emosional. Di tengah ruang publik yang semakin ramai, masyarakat cenderung memilih ketenangan dibandingkan keterlibatan yang berisiko memicu kelelahan mental.
Bagi sebagian orang, diam, menunda, atau menarik diri bukanlah bentuk apatisme. Itu adalah cara paling masuk akal untuk bertahan, sambil tetap menjaga kewarasan.***
Editor : Muhammad Awaludin