RADAR PALU - Proyek pembangunan Kantor Kejaksaan Negeri (Kejari) Morowali Utara (Morut) senilai Rp22,5 miliar kini memasuki fase krusial.
Meski progres fisik telah menembus 92,4 persen, proyek ini justru dibayangi tekanan waktu, kendala material, hingga denda keterlambatan.
Pembangunan kantor yang bersumber dari APBN 2025 ini dikerjakan oleh PT Nurman Abadi, sejak kontrak dimulai pada 22 April 2025.
Hingga awal Maret 2026, progres bahkan disebut telah mencapai 94,2 persen, menandakan proyek nyaris rampung.
Namun, di balik capaian tersebut, pekerjaan justru menumpuk di tahap akhir yang dikenal paling krusial. Finishing dan pengujian sistem.
Perwakilan penyedia jasa konstruksi, Chaerul Akbar memastikan timnya terus menggenjot pekerjaan agar target penyelesaian akhir bulan ini bisa tercapai.
"Secara umum sudah di atas 94 persen. Tinggal finishing dan beberapa item kecil, sekitar 5 persen lagi," ujarnya kepada Radar Palu di Kolonodale, Selasa (17/3/2026).
Sejumlah pekerjaan yang masih berlangsung meliputi pemasangan pagar depan dan samping, pekerjaan puffing, hingga pemasangan kaca (cutting wall). Talud telah rampung, sementara pagar samping masih dikebut.
Tak hanya itu, pemasangan keramik teras, pengecatan ulang, hingga perapian detail bangunan menjadi fokus utama. Pengecatan belum dilakukan sepenuhnya karena kondisi bangunan masih kotor akibat aktivitas pekerja.
"Pengecatan final nanti dilakukan setelah semua pekerjaan selesai supaya hasilnya maksimal," jelas Chaerul.
Salah satu tahapan penting yang tersisa adalah tes komisioning, yakni pengujian seluruh sistem gedung, mulai dari lift, AC, hingga instalasi listrik.
Meski instalasi listrik telah rampung, termasuk oleh pihak PLN, pengujian sistem terpaksa ditunda.
"Awalnya dijadwalkan tanggal 20, tapi diundur setelah Lebaran karena faktor cuti," katanya.
Di tengah percepatan, proyek ini justru tersandung ketersediaan material. Item ini kerap menjadi kendala klasik.
Kebutuhan paving mencapai sekitar 80 ribu unit, namun pengadaannya terlambat karena tidak diprioritaskan sejak awal. Saat ini, pihak kontraktor masih menunggu ketersediaan dari pemasok di Desa Salonsa.
Selain itu, terjadi kesalahan perhitungan kebutuhan kaca. Dari kebutuhan 25 lembar, hanya dihitung 6 lembar, sehingga harus dilakukan pemesanan ulang dengan waktu tunggu sekitar satu minggu.
"Ternyata saya saya salah hitung kebutuhan kaca," ungkap Akbar.
Keterbatasan stok keramik dengan motif seragam di Palu juga memaksa pengiriman dilakukan dari Surabaya. Sementara itu, kubikel toilet baru akan diproses setelah lebaran Idul Fitri.
Proyek ini kini berpacu dengan waktu setelah mendapatkan perpanjangan selama 90 hari, terdiri dari 50 hari masa kesempatan dan tambahan 40 hari berikutnya.
Namun, perpanjangan itu tidak gratis. Proyek telah masuk fase denda keterlambatan yang terus berjalan.
Target penyelesaian dipatok pada akhir bulan ini, sekitar 27 Maret. Sejumlah pekerja bahkan tetap bertahan di lokasi selama Lebaran demi mengejar target, khususnya untuk pekerjaan keramik teras, paving, dan pagar.
"Sekitar lima orang tetap standby saat lebaran untuk selesaikan bagian itu," ungkap Akbar.
Meski secara fisik hampir rampung, proyek Kantor Kejari Morut belum sepenuhnya aman dari risiko molor.
Sisa pekerjaan yang tampak kecil justru menjadi penentu akhir, apalagi dengan tekanan denda yang terus berjalan.
Jika seluruh tahapan finishing dan pengujian sistem berjalan lancar pasca-Lebaran, gedung ini berpotensi segera difungsikan. Namun jika tidak, proyek bernilai miliaran rupiah ini terancam kembali meleset dari target.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin