Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Mengapa Awal Ramadan Bisa Berbeda? Ini Penjelasan Astronomi

Muhammad Awaludin • Rabu, 18 Februari 2026 | 10:58 WIB
Ilustrasi hilal sebagai penanda awal bulan Hijriah setelah fase konjungsi.
Ilustrasi hilal sebagai penanda awal bulan Hijriah setelah fase konjungsi.

RADAR PALU - Setiap tahun, pertanyaan yang sama kembali muncul: mengapa awal Ramadan bisa berbeda, padahal bulan dan langitnya sama?

Jawabannya bukan sekadar soal terlihat atau tidak. Ada hitungan astronomi yang bekerja di baliknya.

 

 

 

Penjelasan ini disampaikan dalam salah satu konten video akun edukasi astronomi @astropedia.indonesia di Instagram. 

Dalam video tersebut dijelaskan, awal bulan Hijriah secara astronomi ditentukan oleh posisi Bulan terhadap Bumi dan Matahari.

Fase awal dimulai saat terjadi konjungsi atau ijtima’. Itu adalah momen ketika Bulan, Bumi, dan Matahari berada dalam satu garis lurus.

Pada saat itu, bulan sama sekali belum terlihat dari Bumi.

Setelah konjungsi, bulan bergerak menjauh dari Matahari. Jika posisinya sudah cukup tinggi di atas ufuk dan cahayanya memadai, muncullah hilal. 

Hilal inilah yang menjadi penanda awal bulan baru dalam kalender Hijriah, termasuk Ramadan, Syawal, dan Dzulhijjah.

Secara ilmiah, astronom menghitung banyak variabel. Mulai dari tinggi bulan, jarak sudut bulan dan Matahari, usia bulan sejak konjungsi, hingga kondisi atmosfer.

Dari perhitungan itu, ilmuwan dapat memprediksi kemungkinan hilal terlihat atau tidak.

Di lapangan, ada dua pendekatan yang dikenal luas: rukyat dan hisab.

Rukyat adalah pengamatan langsung hilal di langit. Sementara hisab merupakan metode perhitungan astronomi. 

Keduanya berbasis ilmu, hanya berbeda dalam pendekatan.

Perbedaan awal Ramadan bisa terjadi karena faktor geografis dan kriteria visibilitas yang digunakan. Di satu wilayah hilal mungkin sudah memenuhi syarat terlihat, di wilayah lain belum.

Artinya, awal Ramadan bukan sekadar melihat bulan. Ia merupakan hasil perpaduan gerak kosmik yang presisi dan metode ilmiah yang disepakati.

Langitnya tetap satu. Namun cara manusia membaca dan menetapkannya bisa berbeda.


Di Indonesia, penetapan awal Ramadan dilakukan melalui sidang isbat oleh Kementerian Agama Republik Indonesia dengan mempertimbangkan data hisab dan hasil rukyat dari berbagai daerah. Pendekatan ini dipakai untuk memastikan keputusan memiliki dasar ilmiah sekaligus pertimbangan syariat.***

Editor : Muhammad Awaludin
#hilal #Konjungsi Bulan #Radar Palu #sidang isbat #Awal Ramadan #rukyat dan hisab