Musim Panas Dongkrak Produksi dan Pendapatan Petani Garam Talise

Annisa Wibdy • Dipublikasikan Jumat, 11 September 2026 | 13:25 WIB
Petani Garam Umar. FOTO: Annisa Nurul Wibdy.
Petani Garam Umar. FOTO: Annisa Nurul Wibdy.

RADAR PALU - Musim panas menjadi berkah bagi petani garam di kawasan Penggaraman Talise, Kota Palu. Teriknya matahari mempercepat proses penguapan air di tambak sehingga produksi garam meningkat dan panen menjadi lebih melimpah.

Salah satu petani garam, Umar, mengatakan kondisi cuaca sangat menentukan hasil produksi. Ketika cuaca kurang mendukung, satu petak tambak hanya mampu menghasilkan sekitar satu hingga dua karung garam.

Sebaliknya, saat matahari bersinar terik, hasil panen dapat meningkat hingga empat atau lima karung per petak. Bahkan, dalam kondisi cuaca yang sangat baik, produksi bisa mencapai 10 karung dalam satu petak.

Baca Juga: Bukan Sekadar Tambak Garam, Penggaraman Talise Disiapkan Jadi Kawasan Wisata

“Kalau cuaca tidak normal, satu karung, dua karung. Kalau cuaca normal begini, empat karung, bahkan ada sampai 10 karung itu per kotaknya,” kata Umar. Kamis, (13/8/2026). 

Besarnya hasil panen juga bergantung pada luas lahan yang dimiliki masing-masing petani. Di Penggaraman Talise, ada petani yang mengelola dua petak, sementara sebagian lainnya memiliki empat petak atau lebih. Karena itu, jumlah produksi setiap petani berbeda-beda.

Peningkatan produksi saat musim panas turut berdampak pada pendapatan petani. Umar menyebut penghasilannya dari tambak yang dikelola dalam skala kecil bisa mencapai sekitar Rp10 juta dalam sebulan apabila cuaca mendukung.

Baca Juga: Penggaraman Talise Berpotensi Jadi Destinasi Wisata, Dinas Pariwisata Fokus Siapkan SDM

Dalam satu kali panen, Umar mengaku bisa menghasilkan sekitar 50 karung garam. Dengan harga jual sekitar Rp90 ribu per karung, hasil dari satu kali panen tersebut dapat mencapai Rp4,5 juta. Namun, pendapatan tersebut tidak selalu sama karena dipengaruhi cuaca, luas lahan, jumlah petak, produksi dan harga garam.

Bagi petani, musim panas merupakan waktu yang paling menguntungkan untuk memproduksi garam. Sebaliknya, datangnya musim hujan menjadi tantangan karena proses penguapan terganggu dan hasil panen ikut menurun.

Persoalan lain yang dihadapi petani adalah pemasaran. Umar menyoroti masih masuknya garam dari luar daerah, seperti Makassar dan Surabaya, ketika petani lokal sedang memasuki masa panen. Kondisi itu dinilai dapat menekan harga garam produksi Penggaraman Talise.

Baca Juga: Dorong Kopi Buleleng Morowali Berindikasikan Geografis, Kemenkum Sulteng Siapkan Pendampingan

“Ini musim panen, tapi tengkulak masih mengambil dari Makassar. Jadi harga garam di Kota Palu turun karena ada garam dari luar yang murah,” ujarnya.

Umar berharap kebutuhan garam di Kota Palu saat musim panen dapat dipenuhi lebih banyak dari produksi petani lokal. Menurutnya, keberadaan bahan baku garam di daerah sendiri seharusnya menjadi peluang untuk memperkuat produksi dan memberikan harga yang lebih layak kepada petani.

Umar telah menggeluti usaha garam di Penggaraman Talise sejak 2003. Pengetahuan mengenai pengolahan garam diperolehnya sejak masih duduk di sekolah dasar ketika mengikuti orang tuanya bekerja di tambak garam di Jawa. Saat pertama mengelola tambak di Talise, ia masih menyewa lahan sebelum akhirnya memiliki sejumlah petak sendiri.

Baca Juga: Dinsos Banggai Perketat Verifikasi Penerima Bansos, Cegah Penyalahgunaan 

Kini, Umar mengelola sekitar 5.000 meter persegi lahan yang tersebar di enam petak. Ia mengatakan ukuran tambak di Talise relatif kecil dibandingkan dengan tambak garam di Jawa, dengan luas petak mulai sekitar 150 meter persegi hingga 1.000 meter persegi.

Selain persoalan produksi, Umar juga menyoroti penyusutan luas kawasan Penggaraman Talise. Dari yang sebelumnya diperkirakan mencapai sekitar 30 hektare, kini lahan penggaraman disebut hanya tersisa sekitar 16 hektare. Penyusutan terjadi seiring perubahan penggunaan lahan dan perkembangan bangunan di sekitar kawasan.

Meski luas kawasan semakin berkurang, aktivitas produksi garam masih bertahan. Menurut Umar, sebagian besar pemilik tambak merupakan masyarakat lokal yang telah menjalankan usaha tersebut secara turun-temurun dan menjadikan penggaraman sebagai bagian dari kehidupan mereka.

Baca Juga: Timpora 2026, Perkuat Sinergi Pengawasan Orang Asing di Banggai

“Pemilik tambak garam di sini banyak yang orang lokal. Ini sudah menjadi bagian dari sejarah Penggaraman Talise,” ungkapnya.

Umar juga berharap pemerintah lebih sering turun langsung melihat kondisi tambak dan berdialog dengan petani. Ia menyebut sejumlah bantuan telah diterima petani, salah satunya mesin Alcon untuk membantu kebutuhan pemompaan air. Namun, ia berharap bantuan yang diberikan benar-benar disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan.

“Pemerintah harus turun ke masyarakat, turun ke tambak. Lihat apa yang diperlukan di sini,” katanya.

Baca Juga: Dinsos Banggai Perketat Verifikasi Penerima Bansos, Cegah Penyalahgunaan 

Selain kebutuhan peralatan, petani juga harus menanggung biaya operasional air. Umar menyebut biaya tersebut bervariasi, mulai Rp50 ribu, Rp100 ribu hingga Rp150 ribu, tergantung kebutuhan masing-masing tambak.

Menurut Umar, musim panas memang memberikan keuntungan bagi petani karena produksi dan pendapatan meningkat. Namun, petani tetap menghadapi berbagai tantangan, mulai dari perubahan cuaca, fluktuasi harga, biaya operasional hingga persaingan dengan garam dari luar daerah.

Ia berharap Penggaraman Talise tetap dipertahankan sebagai kawasan produksi garam dan sumber penghidupan masyarakat. Ia juga meminta agar ketika produksi lokal sedang melimpah, kebutuhan pasar lebih mengutamakan garam yang dihasilkan petani setempat.

Baca Juga: Sesar Palu-Koro Picu Gempa M 4,7 di Donggala, Getaran Terasa hingga Palu dan Sigi

“Kalau panen bagus seperti ini, jangan mengambil garam dari luar. Supaya petani di sini juga bisa makan,” pungkas Umar.

Editor : Annisa Wibdy
penggaraman talise produksi garam harga garam petani garam kota palu