Oleh : Ir. Yusak Jore Pamei, MA. *)
KABAR penting kini datang bukan dari ibukota, tapi dari ladang-ladang kakao yang luas di jantung Sulawesi Tengah. Radar Palu sebagai garda informasi lokal tak hanya memberitakan—tapi juga menjadi medium penggerak gagasan: revitalisasi kakao kini adalah kebutuhan strategis, bukan sekadar wacana.
Landasan Data: Kontribusi dan Tantangan Nyata
Sekretaris Badan Bank Tanah, Jarot Wahyu Wibowo, menyatakan bahwa Sulawesi Tengah berkontribusi sekitar 145 ribu ton dari total 641 ribu ton produksi kakao nasional, atau sekitar 2,9 persen produksi dunia—menandakan perannya yang strategis dalam agribisnis regional. Namun ironisnya, 65 persen kebun kakao di sini berusia lebih dari 25 tahun, menjadi penyebab utama rendahnya produktivitas dan lemahnya kontribusi terhadap PDRB—hanya sekitar 1,16 persen.
Hilirisasi: Jalan Tengah yang Terabaikan
Kakao sebagian besar diekspor dalam bentuk biji mentah, sehingga potensi ekonomi tidak terserap di daerah asal. Kelemahan ini memicu perlunya hilirisasi—pengolahan di dalam negeri demi menciptakan nilai tambah lokal . Ini bukan sekadar soal kebanggaan lokal, tetapi soal pemerataan ekonomi dan penguatan ketahanan komoditas.
Legalitas dan Landbank: Peran Kritis Bank Tanah
Langkah strategis hadir dari Badan Bank Tanah yang mulai menempatkan tim organik di Sulteng. Langkah ini diambil untuk memberikan kejelasan legalitas lahan—permintaan yang kerap menjadi hambatan pengembangan subsektor kakao .
Transformasi Lokal: Apakah Radar Palu Bisa Menjadi Penggerak?
Sebagai media yang baru saja bereinkarnasi melalui rebranding dari Radar Sulteng menjadi Radar Palu—menekankan kebangkitan, harapan, dan akar budaya lokal dalam makna “Palu” (“tanah yang terangkat”)—media ini memiliki potensi besar berperan sebagai katalis wacana pembangunan lokal .
Radar Palu bisa mengambil posisi sebagai jembatan antara petani, pemerintah daerah, dan investor—menggaungkan pentingnya hilirisasi, peremajaan, dan kolaborasi. Suaranya kini bukan hanya menyampaikan berita, tetapi menginspirasi perubahan.
Agenda Strategis: Aksi Nyata untuk Revitalisasi Kakao
Penjelasan, pertama peremajaan massal, berupa distribusi klon unggul dan replanting kebun tua untuk mengatasi menurunnya produktivitas. Kedua, fasilitas hilirisasi daerah, dengan cara membangun sentra pengolahan kakao dekat pusat produksi agar nilai tambah tidak menguap ke luar daerah. Ketiga, kelembagaan agribisnis lokal, yakni mendorong pembentukan koperasi petani atau kelompok usaha bersama, agar akses pasar dan kontrol harga lebih kuat.
Selanjutnya keempat, jaminan legalitas dan inklusi keuangan, perluasan hak pengelolaan lahan (HPL) lewat Bank Tanah membuka ruang investasi, dan mendorong eksportir menggunakan LC di Palu. Kelima, peran media lokal sebagai penggerak, Radar Palu harus bertransformasi menjadi alat advokasi—memberi spotlight pada praktik terbaik, hambatan, dan peluang sektor kakao.
Revitalisasi kakao bukan sekadar gerakan ekonomi—melainkan panggilan sejarah untuk Sulawesi Tengah agar kembali menjadi kekuatan agrobisnis nasional.
Jika Bank Tanah membawa legalitas, dan Radar Palu membawa optimisme dan advokasi, maka stakeholder lainnya—pemerintah, akademisi, investor, dan petani—hadir sebagai penggerak ekosistem.
Kembalinya kejayaan kakao sebagai pilar ekonomi lokal menanti jika kita bergerak bersama, berlandaskan data, strategi, dan keberanian bertindak. Semoga bermanfaat bagi khalayak pembaca Radar Palu. Terimakasih.
*) Penulis adalah pemerhati pembangunan, ekonomi dan sosial budaya, pegiat literatur tinggal di kota Palu, Sulawesi Tengah.