
Oleh : Salihudin *)
DI PADANG pasir yg sunyi itu, angin berembus pelan di antara bebatuan Makkah yang kering. Langit masih menyimpan sisa gelap, tetapi hati Ibrahim telah lebih dulu diterangi oleh sebuah perintah yg berat. Ini perintah istimewa karena tdk dapat ditawar dengan harta, pangkat, atau air mata.
Di hadapannya, Ismail berjalan tenang.
Anak itu bukan sekadar anak. Dia adalah buah doa yang lama ditunggu. Lahir setelah tahun-tahun panjang penantian, setelah rambut Ibrahim memutih oleh usia, setelah harapan hampir menjadi sesuatu yang hanya disimpan dalam doa malam. Ismail adalah jawaban Allah atas kesabaran seorang ayah.
Namun justru anak yang paling dicintai itulah yang kini diminta untuk dikurbankan.
Ibrahim tidak tergesa menyampaikan perintah itu. Beliau tau, cinta yang besar harus diuji dengan kejujuran yang besar pula.
Baca Juga: Karantina Diperkuat, Ekspor Durian Sulawesi Tengah Digenjot
Dalam riwayat yang kita kenal, Ibrahim berkata kepada anaknya bahwa dia melihat dalam mimpi dirinya menyembelih Ismail. Dia tidak memaksa. Namun beliau mengajak dialog. Beliau membuka ruang bagi seorang anak untuk ikut memahami kehendak Tuhan.
Jawaban Ismail mengguncang sejarah.
“Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu. Insya Allah engkau akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar.”
Kalimat itu pendek. Tetapi dari sanalah lahir pelajaran panjang bagi umat manusia.




