Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Menjadikan Kopi Komoditi Unggulan Sulawesi Tengah, Punya Cerita, Rasa, dan Semangat

Muksin Sirajuddin • Minggu, 10 Agustus 2025 | 12:31 WIB

 

Yusak Jore Pamei (FOTO : ISTIMEWA/RADAR PALU)
Yusak Jore Pamei (FOTO : ISTIMEWA/RADAR PALU)
Oleh : Ir. Yusak Jore Pamei, MA. *)

KOPI bukan sekadar aroma pagi atau teman lembur malam. Di Sulawesi Tengah, ia adalah denyut kehidupan ekonomi ribuan petani, UMKM, dan masyarakat kota. Dari perbukitan Pipikoro sampai warung kopi di Jalan Sam Ratulangi, kopi layak kita dorong sebagai komoditi unggulan daerah.

Potensi Kopi Sulteng dalam Angka, luas kebun kopi 12.687 hektare, total produksi (2023) 3.044 ton/tahun.

Kabupaten penghasil utama kopi yakni Poso, Sigi, Donggala, Banggai, Tolitoli, Tojo Unauna, Parigi Moutong. Harga rata-rata biji kopi di tingkat petani Rp 26.000–28.000/kg. Estimasi perputaran uang kurang lebih Rp 81 miliar per tahun.

Jenis dan nama kopi unggulan Sulteng, kopi Arabika Lindu (Kabupaten Sigi – Kecamatan Kulawi dan Lindu). Ditanam di atas 1.200 mdpl. Dikenal dengan rasa clean, sweet, dan body medium. Cocok untuk pasar specialty coffee.

Kopi Arabika Pipikoro (Kabupaten Sigi – Kecamatan Pipikoro). Beraroma floral dan citrus, cocok untuk pour over dan filter. Sudah dikembangkan dengan bibit unggul dan teknik semi-washed.

Kopi Arabika Kulawi (Kabupaten Sigi – Kulawi dan Kulawi Selatan). Rasa earthy, chocolatey, dan acidity ringan. Dikenal di kalangan roastery Makassar dan Jakarta.

Kopi Robusta Lore Utara (Kabupaten Poso – Lore Peore dan Lore Tengah). Produksi tinggi dengan karakter bold dan pahit klasik. Cocok untuk kopi tubruk dan campuran espresso blend.

Kopi Robusta Tojo Unauna (Touna). Ditanam di wilayah pesisir berbukit. Harga stabil, cocok untuk pasar lokal.

Kopi Dataran Gawalise (Donggala-Palu-Sigi). Campuran varietas arabika dan robusta. Dikenal di warkop-warkop Palu. Belum bersertifikasi, tapi punya potensi besar untuk dikembangkan.

“Kopi dari Sulawesi Tengah memiliki rasa dan cerita. Tapi tanpa sistem, ia tak akan sampai ke pasar dunia.” Catatan Kegiatan Festival Kopi Sigi 2024.

Warung Kopi Palu, Simbol Ekonomi dan Ruang Sosial
Lebih dari 50 warung kopi kini hidup di kota Palu — dari warkop klasik hingga modern tematik. Beberapa di antaranya, Warkop Kintung (K2, K3) – ikonik dan ramai tiap malam.

Warkop Rumah Balai Kota, Warkop Daeng Andi, Aweng Coffee, Warkop Hutan Kota. Harga per gelas Rp 10.000–15.000. 

Menurut ANTARA Sulteng, warung kopi di Palu adalah “oase ekonomi pasca-gempa” yang berhasil hidup kembali dan menghidupkan warga.

Rekomendasi Strategis, Arah Kebijakan, Langkah Konkret

Branding Kopi Lokal Sertifikasi IG (Indikasi Geografis) untuk kopi Lindu, Pipikoro, dan Kulawi.

Hilirisasi dan UMKM Kopi Bangun kemitraan koperasi petani – roastery – warkop kota.

Infrastruktur dan Pendampingan Prioritaskan listrik, jalan, dan pelatihan mutu di sentra kopi, warung kopi kreatif. Dorong konsep warung kopi lokal jadi ruang diskusi, seni, dan bisnis anak muda.

Dari Gunung ke Gelas, dari Daerah ke Dunia
Sulawesi Tengah bukan hanya punya potensi kopi — kita punya cerita, rasa, dan semangat. Yang kita butuhkan adalah komitmen untuk menjadikannya komoditas unggulan daerah: lewat pembinaan petani, penguatan pasar lokal, serta peran warung kopi sebagai etalase budaya.

Kopi bukan sekadar hasil bumi. Ia adalah identitas, ekonomi, dan harapan. Mari kita rawat dan besarkan bersama.(*)

*) Penulis adalah Pemerhati Sosial Budaya dan Politik, pegiat literatur tinggal di kota Palu, Sulawesi Tengah.

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Menjadikan kopi komoditi unggulan #Rasa dan semangat #Menjadikan kebutuhan dan komitmen #Punya cerita #sulawesi tengah