RADAR PALU – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banggai masih menghadapi sejumlah kendala dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah.
Selain kondisi medan yang sulit, keterbatasan peralatan dan perlengkapan pemadaman yang sesuai standar operasional prosedur (SOP) menjadi salah satu persoalan yang dihadapi petugas di lapangan.
Kepala BPBD Kabupaten Banggai, Moh. Rifai Mahiwa, mengatakan sebagian titik karhutla berada di kawasan pegunungan sehingga sulit dijangkau menggunakan armada pemadam kebakaran.
Baca Juga: Banggai Surplus Beras, Mentan Amran Dorong Penguatan Brigade Alsintan
Menurutnya, meski BPBD telah berkoordinasi dan bekerja sama dengan Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan, kondisi medan membuat armada tidak dapat menjangkau seluruh titik kebakaran.
“Kendala kita memang salah satunya peralatan. Karena rata-rata titik kebakaran berada di wilayah pegunungan, sehingga armada pemadam tidak bisa menjangkau sampai ke titik api. Ini menjadi tantangan bagi petugas di lapangan,” ujar Rifai.
Kondisi tersebut membuat proses pemadaman harus dilakukan dengan menyesuaikan kemampuan personel dan peralatan yang tersedia. Petugas BPBD bersama unsur terkait harus mendekati lokasi kebakaran dengan berjalan kaki ketika akses kendaraan tidak memungkinkan.
Baca Juga: Dinsos Banggai Perketat Verifikasi Penerima Bansos, Cegah Penyalahgunaan
Rifai menjelaskan, kebutuhan peralatan untuk penanganan karhutla di kawasan pegunungan berbeda dengan penanganan kebakaran yang berada di wilayah yang mudah dijangkau kendaraan.
“Kita membutuhkan peralatan yang memang sesuai dengan standar SOP untuk penanganan karhutla, terutama untuk kondisi medan seperti di pegunungan. Karena kalau hanya mengandalkan armada yang ada, tidak semua titik bisa kita jangkau,” katanya.
Untuk mengatasi keterbatasan tersebut, BPBD Kabupaten Banggai telah melakukan koordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah. Koordinasi tersebut dilakukan untuk meminta dukungan peralatan yang dinilai dapat menunjang proses pemadaman di lokasi yang sulit dijangkau.
Baca Juga: Timpora 2026, Perkuat Sinergi Pengawasan Orang Asing di Banggai
“Kami sudah berkoordinasi dengan BPBD Provinsi Sulawesi Tengah untuk mendapatkan dukungan peralatan sesuai standar. Mudah-mudahan kebutuhan tersebut bisa dibantu, sehingga ketika terjadi kebakaran di lokasi yang sulit dijangkau, kita memiliki peralatan yang lebih memadai,” ungkap Rifai.
Meski masih menunggu dukungan peralatan, BPBD Banggai memastikan penanganan karhutla tetap berjalan dengan memaksimalkan sarana dan prasarana yang tersedia.
Petugas juga terus berkoordinasi dengan Damkar, TNI, Polri, pemerintah kecamatan, pemerintah desa serta masyarakat dalam setiap penanganan kebakaran yang terjadi.
Baca Juga: DPRD Banggai Panggil 27 Kepala Puskesmas, Dugaan Pungli Dibongkar
Langkah tersebut dinilai penting mengingat karhutla masih menjadi ancaman selama kondisi kemarau dan vegetasi di sejumlah wilayah berada dalam kondisi kering.
Sebelumnya, penanganan karhutla di kawasan pegunungan Banggai juga dilaporkan menghadapi kendala akses lokasi, cuaca, angin serta keterbatasan komunikasi.
“Sambil menunggu dukungan peralatan, kita tetap memaksimalkan apa yang ada. Yang terpenting ketika ada laporan, personel segera bergerak dan berupaya melakukan pemadaman agar api tidak meluas,” tegas Rifai.
Baca Juga: 58 KPM di Banggai Terima Bantuan PANADA, Total Alokasi Capai Rp116 Juta
BPBD Banggai juga telah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi karhutla, termasuk dengan membentuk posko darurat di sejumlah wilayah prioritas untuk mempercepat respons terhadap laporan masyarakat.
Rifai berharap dukungan peralatan dari pemerintah provinsi dapat segera direalisasikan. Menurutnya, ketersediaan peralatan yang sesuai dengan karakteristik wilayah akan sangat menentukan efektivitas penanganan karhutla, terutama ketika titik api berada jauh di kawasan pegunungan.
“Kita tidak ingin menunggu api membesar baru bergerak. Karena itu, selain kesiapan personel, dukungan peralatan juga sangat penting untuk mempercepat penanganan di lapangan,” tandasnya.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin