Enam Jam Berjalan Kaki, Tim Puskesmas Kaleke Jangkau Warga Dusun III Waturalele

Mugni Supardi • Dipublikasikan Minggu, 6 September 2026 | 16:03 WIB
Tim Puskesmas Kaleke beranjak meninggalkan Desa Balaroa Pewunu, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, menuju ke Dusun III Waturalele yang berada di pegunungan.(Foto :Mugni Supardi)
Tim Puskesmas Kaleke beranjak meninggalkan Desa Balaroa Pewunu, Kecamatan Dolo Barat, Kabupaten Sigi, menuju ke Dusun III Waturalele yang berada di pegunungan.(Foto :Mugni Supardi)

RADAR PALU – Jarum jam hampir menunjukkan pukul 12.00 WITA, Sabtu (29/8/2026), ketika tim kesehatan Puskesmas Kaleke, Dolo Barat, Kabupaten Sigi, mulai berjalan menuju Dusun III Waturalele. Perjalanan dimulai dari kaki gunung, tepatnya di Desa Balaroa Pewunu.

Matahari cukup terik. Dokter, bidan, dan dua tenaga administrasi menyusuri jalur dari ujung jalan beraspal. Bersama mereka, Radar Palu turut berjalan kaki menuju Dusun III Waturalele.

Kepala Puskesmas Kaleke Sitti Hajar, S.ST., M.K.M., tidak langsung mengikuti perjalanan dengan berjalan kaki. Sekitar pukul 15.00 WITA, ia memilih menggunakan ojek karena mempertimbangkan kondisi fisik, mengingat jalur menuju dusun tersebut cukup ekstrem.

Baca Juga: Honor Tenaga Kesehatan Diduga Dipotong 10 Persen, Komisi I DPRD Banggai Panggil Seluruh Kepala Puske

“Walaupun bisa ditempuh dengan motor, tetapi itu bisa mengancam nyawa juga. Saya waktu naik motor beberapa kali turun. Memang sangat sulit,” ujar Sitti Hajar.

Bagi tim yang berjalan kaki, medan di depan memang tidak ringan. Tanjakan pertama terasa panjang. Langkah pun diperlambat, sesekali berhenti untuk mengatur napas sebelum kembali melanjutkan perjalanan.

Beberapa ratus meter dari ujung jalan beraspal di Desa Balaroa Pewunu, akses ke Dusun III Waturalele masih cukup lebar untuk dilalui kendaraan roda empat. Di sejumlah titik, permukaan jalan dipenuhi batu sehingga kendaraan harus lebih hati-hati.

Baca Juga: Pemkab Poso Berencana Revitalisasi Pantai Penghibur 

Kondisi berubah ketika memasuki tanjakan pertama. Jalan yang semula cukup lebar berubah menjadi jalan setapak dengan permukaan tanah. Saat cuaca terik, tanah menjadi berdebu. Sebaliknya, ketika hujan, permukaannya menjadi licin dan membuat perjalanan semakin sulit.

Tanjakan pertama yang ditemui saat menuju Dusun III Waturalele, mulai dari sini kekuatan fisik mulai diuji.(Foto : Mugni Supardi)
Tanjakan pertama yang ditemui saat menuju Dusun III Waturalele, mulai dari sini kekuatan fisik mulai diuji.(Foto : Mugni Supardi)

Di sisi kanan jalur ketika menanjak terdapat jurang. Kondisi tersebut membuat setiap langkah harus diperhatikan.

Perjalanan dengan kondisi medan tersebut memakan waktu cukup panjang. Tim yang berjalan kaki tiba di Dusun III Waturalele sekitar pukul 18.00 WITA. Sementara Sitti Hajar yang menggunakan ojek sempat berpapasan dengan tim di tengah perjalanan dan tiba lebih dahulu. Perjalanan menggunakan sepeda motor itu memakan waktu sekitar satu jam.

Baca Juga: Pemkab Morowali Gelar Seminar Akhir RAD-PUG 2025–2029

Tim Puskesmas Kaleke kemudian bermalam di sebuah rumah panggung milik warga, yang digunakan sebagai tempat singgah. Rumah tersebut juga digunakan guru SDN Waturalele sebagai tempat menginap ketika harus menjalankan aktivitas mengajar di dusun tersebut.

Keterbatasan akses itu juga menjadi persoalan ketika warga membutuhkan pelayanan dalam kondisi darurat. Hanya kendaraan roda dua yang dapat menjangkau seluruh jalur menuju permukiman.

Beberapa titik di ruas jalan menuju Dusun III Waturalele menjadi lokasi yang strategis untuk beristirahat sejenak.(Foto: Mugni Supardi)
Beberapa titik di ruas jalan menuju Dusun III Waturalele menjadi lokasi yang strategis untuk beristirahat sejenak.(Foto: Mugni Supardi)

Dalam salah satu penanganan ibu hamil yang mengalami perdarahan, misalnya, Sitti Hajar mengaku tim medis dijemput dengan ojek ke permukiman penduduk Dusun III Waturalele. Pasien kemudian dievakuasi secara manual menggunakan tandu yang dibuat dari kursi gereja yang dimodifikasi.

“Kalau tidak salah itu tahun 2024 atau 2025 ada ibu hamil ditandu. Jadi bidan dan perawat ke sana, naiknya pakai ojek, turunnya sama-sama warga jalan kaki karena pasiennya harus dipantau, kan dipasangi infus,” kata Sitti Hajar.

Baca Juga: Cuaca Panas dan Kering, Ketua DPRD Palu Minta Warga Waspada Kebakaran

Setelah mencapai kaki gunung atau titik yang masih dapat dijangkau kendaraan roda empat, proses evakuasi dilanjutkan menuju fasilitas kesehatan.

Dusun III Waturalele secara administratif berada di Kecamatan Dolo, namun secara geografis berada di wilayah Dolo Barat. Kondisi tersebut menjadikan Dusun III Waturalele sebagai salah satu dari empat wilayah terpencil yang menjadi sasaran pelayanan Puskesmas Kaleke.

Tiga wilayah lainnya adalah Dusun Topesino, Desa Mantikole, Dusun Ngatapapu, dan Dusun Wilao, Desa Balumpeva.

Baca Juga: Mutmainah Korona Dalami Kepemimpinan dan Integritas Publik di Australia

Sitti Hajar mengatakan pelayanan kesehatan ke wilayah-wilayah tersebut dilakukan secara berkala. Pelaksanaannya tidak selalu bersamaan, tergantung kondisi dan kebutuhan di masing-masing wilayah.

Pelayanan yang diberikan cukup beragam. Mulai pemeriksaan kesehatan ibu hamil, kelas ibu hamil, kelas ibu balita, pelayanan kesehatan masyarakat, pengobatan oleh dokter, hingga Cek Kesehatan Gratis (CKG).

Salah seorang lansia yang berusia 106 tahun mendapatkan pemeriksaan kesehatan dari dokter Puskesmas Kaleke.
Salah seorang lansia yang berusia 106 tahun mendapatkan pemeriksaan kesehatan dari dokter Puskesmas Kaleke.(Foto: Mugni Supardi)

Pelayanan juga menyasar kelompok rentan, termasuk lansia yang sudah tidak mampu turun dari rumah. Tenaga kesehatan mendatangi lansia yang mengalami keterbatasan mobilitas maupun memiliki penyakit berisiko seperti hipertensi dan stroke.

Baca Juga: Bandara Soekarno-Hatta Terdampak Erupsi Anak Krakatau, Sejumlah Penerbangan Palu-Jakarta Dibatalkan

“Pelayanan untuk anak juga dilakukan melalui pemberian vitamin A, sasarannya anak usia enam bulan hingga lima tahun serta obat cacing bagi anak sekolah. Saya juga sekaligus memberi kelas program keluarga berencana (KB),” kata Sitti.

Di tengah keterbatasan akses, Puskesmas Kaleke juga berupaya memastikan masyarakat memiliki jaminan kesehatan. Warga yang belum memiliki jaminan kesehatan diberikan edukasi dan diarahkan untuk berkoordinasi dengan pemerintah desa.

Empat wilayah terpencil tersebut, menurut Sitti Hajar, memiliki tantangan akses masing-masing dan bisa dikatakan seluruhnya tergolong sulit dijangkau. Namun, Waturalele dan Topesino termasuk wilayah yang memiliki akses paling sulit, sementara Wilao dan Ngatapapu relatif lebih pendek jaraknya.

Kondisi medan membuat perjalanan menuju Waturalele tidak selalu mudah ditempuh menggunakan kendaraan. Sepeda motor memang bisa digunakan, tetapi perjalanan tetap memiliki risiko, apalagi ketika harus membawa warga dalam kondisi darurat. Pada kondisi seperti itu, jalur harus ditempuh dengan berjalan kaki.

Baca Juga: PLN Jadwalkan Pemadaman Listrik Malam Ini, Sejumlah Wilayah Palu hingga Morowali Utara Terdampak

Sitti yang beberapa kali ikut dalam pelayanan ke wilayah tersebut mengatakan kondisi medan membuat perjalanan harus dilakukan dengan hati-hati.

“Di sini ojek-ojeknya memang sudah berpengalaman,” ujarnya.

Tantangan akses paling terasa ketika terjadi kondisi darurat. Puskesmas Kaleke memiliki tim bencana dan tim gerak cepat yang disiapkan untuk merespons kebutuhan masyarakat, termasuk kondisi kegawatdaruratan pada ibu hamil.

Baca Juga: Disnakertrans Sulteng Temukan 6 Temuan K3 di IMIP Morowali, Perusahaan Diminta Segera Berbenah

Ibu hamil di wilayah terpencil biasanya diimbau turun ketika usia kehamilan memasuki sekitar tujuh atau delapan bulan. Tujuannya agar mereka lebih dekat dengan fasilitas kesehatan ketika memasuki masa yang memiliki risiko persalinan.

Namun, kondisi darurat tidak selalu datang sesuai perkiraan. Sitti mengatakan tenaga kesehatan tetap berupaya memberikan pertolongan apabila masyarakat membutuhkan bantuan, termasuk ketika terjadi perdarahan pada ibu hamil.

Informasi mengenai kondisi darurat biasanya disampaikan melalui kepala dusun, tokoh masyarakat, pastor, atau pendeta yang berada di wilayah tersebut.

Baca Juga: Ketua Fraksi PKS Sulteng Hadiri Salat Istisqa, Serukan Kepedulian Terhadap Lingkungan

“Kalau pemeriksaan kesehatan rutin yang kami kunjungi langsung seperti ini biasanya tepat pada hari Minggu, jadi dilakukan usai masyarakat ibadah di gereja,” jelas Sitti. 

Di sisi lain, Sitti melihat pemahaman masyarakat terhadap pelayanan kesehatan mulai semakin baik. Warga sudah lebih mengetahui kapan harus meminta bantuan tenaga kesehatan, termasuk ketika kondisi terjadi pada malam hari.

Anak-anak di minta menunjukkan kebersihan kukunya sesaat sebelum ibadah di gereja dimulai.(Foto : Mugni Supardi)
Anak-anak di minta menunjukkan kebersihan kukunya sesaat sebelum ibadah di gereja dimulai.(Foto : Mugni Supardi)

Tenaga kesehatan tetap bersedia memberikan pelayanan dalam kondisi darurat. Namun, jika harus menuju lokasi pada malam atau dini hari, petugas meminta bantuan warga untuk menjemput karena faktor keselamatan.

Menurut Sitti, masyarakat di Waturalele relatif sudah memiliki kemauan yang baik untuk menghubungi tenaga kesehatan ketika membutuhkan pertolongan.

Baca Juga: Sambut Selvi Ananda, IKD DPRD Sulteng Tampilkan Kehangatan

Meski demikian, masih terdapat kelompok masyarakat yang membutuhkan edukasi dan pengawasan lebih lanjut. Beberapa kondisi kesehatan ditemukan setelah warga datang sendiri untuk mendapatkan pemeriksaan.***

Editor : Mugni Supardi
Puskesmas Kaleke Waturalele Sitti Hajar Dolo Barat kabupaten sigi