Akses Uempanapa-Salubiro Terbuka, Warga Tak Lagi Pikul Motor

Ilham Nusi • Dipublikasikan Jumat, 21 Agustus 2026 | 00:18 WIB
PENANGANAN: Salah satu titik longsoran di dataran atas Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara pada Juli 2026 lalu, kini mulai diratakan. (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)
PENANGANAN: Salah satu titik longsoran di dataran atas Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara pada Juli 2026 lalu, kini mulai diratakan. (FOTO: ISTIMEWA/RADAR PALU)

RADAR PALU - Akses penghubung dataran bawah dan atas di Kecamatan Bungku Utara, Kabupaten Morowali Utara (Morut), kembali terbuka setelah sempat terputus akibat longsor pada Juli 2026.

Perbaikan yang berlangsung lebih dari sepekan berhasil membuka sebagian besar titik longsor dan kerusakan jalan. Kondisi itu membuat warga mulai kembali menggunakan sepeda motor untuk menjalankan aktivitas sehari-hari.

Sebelumnya, material longsor menutup akses penghubung Desa Uempana, Lemowalia, hingga Salubiro. Kendaraan tidak dapat melintas secara normal sehingga warga harus mencari cara lain untuk melewati jalur tersebut.

Baca Juga: Kunker Mentan di Palu Berjalan Lancar, Kapolda Sulteng Tegaskan Komitmen Dukung Pertanian

Bahkan menurut Camat Bungku Utara, Asgar Lawahe, warga harus mengangkat sepeda motor secara bersama-sama agar bisa melewati material longsor.

"Motor itu harus enam orang yang pikul karena lewat di atas material longsor," ujar Asgar Lawahe kepada Radar Palu, Kamis (20/8/2026).

Asgar menjelaskan, pekerjaan perbaikan ruas jalan dimulai sehari setelah Bupati Morut Delis Julkarson Hehi meninjau langsung lokasi terdampak pada Jumat (7/8/2026).

Baca Juga: Imbas Penerbangan Palu–Guangzhou: GBMNI Minta Pemerintah Lindungi Tenaga Kerja Lokal

Pemerintah mengerahkan alat berat untuk membuka sejumlah titik yang menghambat mobilitas warga.

Perbaikan menggunakan dua unit alat berat, yakni excavator dan bulldozer. PT Kurnia Luwuk Sejati (KLS) menyediakan alat berat tersebut sekaligus mendukung kebutuhan BBM.

Dari ujung Uempanapa, sekitar 10 kilometer ruas jalan telah ditangani. Sementara itu, keseluruhan jarak dari wilayah bawah menuju kawasan Salubiro mencapai 26 kilometer.

Baca Juga: Jawaban Gugatan Hasil Pilkades Morut Rampung 1 September

Dengan demikian, masih terdapat sekitar 16 kilometer ruas jalan yang menjadi bagian dari akses menuju kawasan tersebut.

Meski begitu, Asgar menegaskan persoalan utama bukan hanya panjang jalan. Sejumlah titik mengalami kerusakan cukup parah dan membutuhkan penanganan lebih lanjut.

"Memang ada beberapa titik yang memang parah sekali," katanya.

Baca Juga: 10 Hektare Lahan Kebun di Nuhon Hangus Terbakar

Menurut Asgar, hasil peninjauan awal menunjukkan kerusakan jalan terjadi karena persoalan aliran air dan longsor.

Di beberapa lokasi, badan jalan bahkan menyerupai aliran sungai. Kondisi itu terjadi karena tidak tersedia saluran pembuangan air yang memadai.

Saat hujan turun, air mengalir langsung di atas badan jalan. Aliran tersebut kemudian menggerus permukaan tanah hingga membentuk lubang dan kerusakan cukup dalam.

Baca Juga: Tingkatkan Sinergi, Kapolres Morowali Gelar Pertemuan Bersama Jurnalis Morowali 

Longsor di sejumlah titik semakin memperparah kondisi jalur penghubung tersebut.

Karena itu, pemerintah tidak hanya membuka material longsor. Perbaikan juga memperhatikan sistem drainase di sepanjang ruas jalan.

Asgar meminta operator alat berat memastikan saluran air tidak tersumbat material tanah maupun longsor.

Baca Juga: Kemenkum Sulteng Perkuat Pemahaman Hukum Adat dalam Pembentukan Perda

Air harus diarahkan melalui parit agar tidak kembali mengalir di atas badan jalan. Langkah itu penting untuk mencegah kerusakan baru ketika hujan kembali turun.

Jalur tersebut menjadi akses penting bagi warga Salubiro, Lemowalia, dan Uempanapa.

Desa Salubiro memiliki delapan dusun dan empat permukiman. Ketika akses jalan terputus, kondisi itu langsung memengaruhi mobilitas warga serta pemenuhan kebutuhan sehari-hari.

Baca Juga: Pelaku Pembunuhan Satu Keluarga Masih Buron, Komnas HAM Sulteng Desak Polisi Bergerak Cepat

Jalan tersebut juga menjadi jalur utama masyarakat untuk membawa hasil perkebunan, seperti damar dan kemiri.

Setelah akses mulai terbuka, warga kembali berusaha mengeluarkan hasil perkebunan dari kawasan tersebut.

Asgar menyebut dua unit jonder sempat naik ke kawasan atas untuk membantu membawa damar dan kemiri turun.

Baca Juga: Pemkab Morut Bayar BPJS 4.770 ASN hingga Januari 2027

Warga juga mulai kembali menggunakan sepeda motor meski sejumlah bagian jalan masih dalam proses perbaikan.

Kondisi ini perlahan membuka kembali aktivitas ekonomi masyarakat. Warga dapat membawa kebutuhan sehari-hari dan hasil perkebunan melalui jalur darat yang sebelumnya terisolasi.

Pemulihan akses jalan belum sepenuhnya selesai. Sejumlah titik kerusakan berat tersebar di Karawasa, Sawuya, Takanutu, Wata, Uemadale, Puncak Salubiro hingga jalur penurunan menuju permukiman Salubiro.

Baca Juga: Pertemuan dengan Menteri ESDM Bawa Angin Segar bagi DBH Sulteng

Salah satu titik longsor besar berada di Puncak Salubiro. Alat berat masih menangani titik tersebut.

Asgar juga meminta dua kepala desa ikut memantau proses pekerjaan di lapangan.

Dia berharap kondisi cuaca yang mulai membaik dapat dimanfaatkan untuk mempercepat perbaikan akses jalan.

Baca Juga: Bahlil Perintahkan Revisi Kepmen ESDM 157, Arus: Kami Sambut Baik

"Kami optimistis akses jalan hingga ke perkampungan dapat segera pulih sepenuhnya sehingga aktivitas masyarakat kembali normal," tambahnya.

Asgar memastikan ruas jalan yang terdampak longsor bukan jalan perusahaan saat ditanya soal perkebunan sawit di wilayah tersebut.

Menurut dia, dua desa di kawasan atas tidak tersentuh aktivitas perusahaan.

Baca Juga: SiPerben Morut Permudah Cek Status Tagihan Secara Digital

Ruas tersebut merupakan jalan pemerintah yang berfungsi sebagai akses penghubung wilayah bawah menuju Salubiro.

"Tidak ada kaitannya dengan jalan perusahaan," tegasnya.

Asgar menyebut Salubiro pernah menjadi lokasi perintisan PT Citra Agro Lestari (CAS). Namun, perusahaan tersebut kemudian meninggalkan wilayah itu setelah mendapat penolakan masyarakat secara masif.

Baca Juga: Mentan Amran Dorong Alumni Tadulako Ubah Mindset dan Berani Ciptakan Lapangan Kerja

Setelah penyaluran bantuan tersebut, belum ada bantuan tambahan yang kembali diserahkan kepada masyarakat.

Namun, Asgar mendapat informasi bahwa Dinas Sosial Morut kemungkinan mengirimkan bantuan tambahan dalam waktu dekat.

"Untuk bantuan tambahan kemungkinan akan ada dari Dinas Sosial yang sudah menghubungi kami," pungkasnya. (***)

Editor : Ilham Nusi
Salubiro Bungku Utara morowali utara jalan rusak longsor