RADAR PALU – Upaya melestarikan budaya lokal tidak hanya dilakukan melalui pertunjukan seni atau pelestarian adat, tetapi juga lewat karya tulis.
Semangat itulah yang diusung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi melalui Bimbingan Teknis (Bimtek) Kepenulisan Berbasis Konten Budaya Lokal bertema “Merangkai Jejak Budaya Sigi Melalui Karya Tulis” yang berlangsung pada 20–21 Juli 2026.
Kegiatan yang dipusatkan di Auditorium Balai Besar Penerapan Modernisasi Pertanian (BRMP) Sulawesi Tengah, Desa Maku, Kecamatan Dolo, itu diikuti pustakawan, guru, pegiat literasi, pelajar, mahasiswa, hingga masyarakat umum.
Baca Juga: Menko Pangan ke Sigi, Pastikan Pupuk Tersedia dan Harga Gabah Menguntungkan Petani
Selama dua hari, peserta dibekali materi mengenai budaya dan kearifan lokal, tradisi lisan, teknik penulisan esai, artikel ilmiah populer, penyuntingan naskah, gaya selingkung, hingga proses penerbitan buku. Materi disampaikan oleh budayawan, praktisi perpustakaan, penulis profesional, dan penerbit.
Mewakili Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Sigi, Kepala Bidang Perpustakaan David Bagia mengatakan kegiatan tersebut merupakan bagian dari strategi pemerintah daerah untuk memperkuat budaya literasi sekaligus mendokumentasikan kekayaan budaya Sigi dalam bentuk karya tulis.
Menurutnya, bimtek ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kemampuan menulis peserta, tetapi juga mendorong lahirnya penulis-penulis baru yang mampu mengangkat potensi dan identitas daerah melalui tulisan.
Baca Juga: Pemulihan Pascagempa Sigi-Parimo Dimulai, Anwar Hafid Prioritaskan Huntara dan Data Akurat
“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kompetensi penulis pemula, mendorong lahirnya penulis kreatif yang mampu melestarikan kearifan lokal Kabupaten Sigi, menghasilkan bahan bacaan bermutu berbasis budaya lokal, serta membangun ekosistem kepenulisan di daerah,” ujar David.
Ia mengungkapkan, kegiatan tersebut juga menargetkan hasil nyata berupa penerbitan sebuah buku yang memuat karya-karya peserta tentang budaya dan kearifan lokal Kabupaten Sigi.
“Output dari kegiatan ini bukan hanya peserta mendapatkan ilmu, tetapi juga menghasilkan satu buku yang berisi karya-karya terbaik peserta. Buku ini nantinya diharapkan menjadi dokumentasi budaya lokal sekaligus memperkaya koleksi literasi Kabupaten Sigi,” katanya.
Baca Juga: Air Bersih Jadi Prioritas, EDC Panas Bumi Indonesia Bantu Ribuan Korban Gempa di Sigi
David berharap buku tersebut dapat menjadi sumber referensi bagi masyarakat sekaligus warisan intelektual yang memperkenalkan kekayaan budaya Sigi kepada generasi mendatang.
Sementara itu, Bunda Literasi Kabupaten Sigi, Siti Halwiah, memberikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Menurutnya, literasi memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya di tengah perkembangan zaman.
“Literasi bukan hanya tentang membaca dan menulis, tetapi juga kemampuan mengolah pengetahuan, mendokumentasikan pengalaman, serta mewariskan nilai-nilai luhur kepada generasi penerus. Melalui tulisan, budaya lokal dapat terus hidup dan dikenal masyarakat luas,” ujarnya.
Baca Juga: Wagub Sulteng Serahkan Santunan BPJS Ketenagakerjaan pada HUT ke-18 Kabupaten Sigi
Ia menilai Kabupaten Sigi memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam, mulai dari tradisi, bahasa daerah, cerita rakyat, kesenian, hingga berbagai bentuk kearifan lokal yang perlu didokumentasikan agar tidak hilang ditelan waktu.
Karena itu, Siti berharap para peserta memanfaatkan pelatihan tersebut sebagai ruang belajar sekaligus awal lahirnya karya-karya yang mampu memperkaya literasi berbasis budaya lokal.
“Hasil dari bimbingan teknis ini saya harapkan tidak berhenti sebagai naskah latihan, tetapi berkembang menjadi buku, dokumentasi budaya, cerita rakyat, biografi tokoh daerah, hingga bahan bacaan yang dapat dimanfaatkan masyarakat,” tuturnya.
Baca Juga: DPW PKS Sulteng Salurkan Bantuan dari Presiden PKS untuk Korban Gempa Sigi
Ia juga mengajak seluruh peserta menjadi agen literasi di lingkungan masing-masing dengan menularkan semangat membaca dan menulis kepada masyarakat.
“Melalui tulisan, kita merawat ingatan, memperkuat jati diri daerah, dan meninggalkan warisan intelektual yang bernilai bagi generasi mendatang,” pungkasnya.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin