RADAR PALU – Perguruan tinggi negeri dan swasta di Sulawesi Tengah sepakat memperkuat peran akademik dalam menghadapi tantangan perubahan iklim dan risiko kebencanaan melalui pembentukan Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana. Konsorsium tersebut dideklarasikan di Aula Baru Fakultas Kedokteran Universitas Tadulako, Senin (22/6).
Deklarasi itu berlangsung bertepatan dengan kunjungan kerja Wakil Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Dr. Fauzan, M.Pd., yang menegaskan pentingnya perguruan tinggi menjadi pusat lahirnya inovasi dan solusi pembangunan.
Menurut Fauzan, kampus tidak lagi cukup berfungsi sebagai tempat belajar mengajar semata. Perguruan tinggi harus mampu menghasilkan penelitian yang berdampak langsung bagi masyarakat dan menjawab persoalan daerah.
Baca Juga: Banggar DPRD Morut dan TAPD Bahas Perhitungan APBD 2025
“Hasil penelitian harus memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Karena itu, hilirisasi riset harus terus diperkuat agar inovasi yang lahir di kampus dapat dimanfaatkan secara luas,” ujarnya.
Ia menilai tantangan perubahan iklim, kebencanaan, hingga transformasi digital membutuhkan kontribusi aktif dunia akademik. Mahasiswa dan peneliti didorong tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga mampu menguasai teknologi, kecerdasan buatan, literasi digital, berpikir kritis, dan memiliki semangat kewirausahaan.
Sementara itu, Wakil Gubernur Sulawesi Tengah, dr. Reny A. Lamadjido, Sp.PK., M.Kes., menilai pembentukan konsorsium tersebut menjadi langkah strategis mengingat Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah dengan tingkat kerawanan bencana yang tinggi di Indonesia.
Reny mengingatkan bahwa pengalaman menghadapi gempa bumi, tsunami, likuefaksi, dan longsor selama ini harus menjadi pelajaran penting bagi seluruh pihak untuk memperkuat budaya kesiapsiagaan.
Menurutnya, penanganan bencana tidak dapat dilakukan secara sektoral, melainkan membutuhkan kolaborasi berbagai pihak dengan dukungan ilmu pengetahuan dan riset yang kuat.
“Pendekatan yang komprehensif dan berbasis ilmu pengetahuan sangat diperlukan agar risiko bencana dapat diminimalkan dan kapasitas masyarakat menghadapi ancaman semakin kuat,” katanya.
Dalam kesempatan itu, Reny juga mendorong para akademisi, khususnya mahasiswa program doktoral dan peneliti, agar menjadikan persoalan yang dihadapi Sulawesi Tengah sebagai fokus penelitian.
Ia berharap hasil tesis, disertasi, maupun penelitian perguruan tinggi mampu menghasilkan rekomendasi dan solusi konkret bagi pembangunan daerah, termasuk dalam bidang mitigasi bencana dan adaptasi perubahan iklim.
Pembentukan Konsorsium Iklim dan Tanggap Bencana Perguruan Tinggi se-Sulawesi Tengah diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang memperkuat sinergi antara kampus, pemerintah, dan berbagai pemangku kepentingan dalam membangun daerah yang lebih tangguh terhadap bencana sekaligus adaptif terhadap perubahan iklim. ***
Editor : Muhammad Awaludin