Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Empat Kubangan Terdeteksi di Nokilalaki Pascagempa, Pemkab Sigi Libatkan Lintas Sektor untuk Penanganan

Angel Sumbara • Sabtu, 20 Juni 2026 | 11:41 WIB
BENCANA: Pemkab Sigi bergerak cepat mengantisipasi potensi bencana susulan pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (16/6/2026).(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU)
BENCANA: Pemkab Sigi bergerak cepat mengantisipasi potensi bencana susulan pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (16/6/2026).(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU)

RADAR PALU – Pemerintah Kabupaten Sigi bergerak cepat mengantisipasi potensi bencana susulan pascagempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada Selasa (16/6/2026). 

Salah satu perhatian utama saat ini adalah munculnya empat titik kubangan atau genangan air di kawasan Kecamatan Nokilalaki yang teridentifikasi akibat longsoran material di daerah hulu.

Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae mengatakan pemerintah daerah telah melibatkan seluruh instansi lintas sektor untuk melakukan kajian dan penanganan terhadap titik-titik genangan tersebut.

Baca Juga: BNPB Ambil Alih Komando Penanganan Gempa Sigi, Huntara hingga Rumah Ibadah Jadi Prioritas

“Ada empat kubangan yang terdeteksi lebih awal sehingga ini bisa segera diantisipasi sebelum terjadi bencana susulan,” kata Rizal pada Radar Palu (20/6/2026).

Menurutnya, langkah penanganan tidak bisa dilakukan secara tergesa-gesa karena harus mempertimbangkan kondisi medan, keselamatan masyarakat, serta dampak lingkungan yang mungkin timbul.

“Kami akan melakukan rapat teknis terlebih dahulu terkait penanganan kubangan di Nokilalaki. Tentunya ada perhitungan-perhitungan berdasarkan hasil pemetaan drone yang sudah dilakukan. Sebab jika menggunakan alat berat tanpa kajian yang matang, justru dapat memicu longsor baru,” ujarnya.

Baca Juga: Kepala BNPB Pastikan Penanganan Gempa Sigi Berjalan Cepat, Warga Terima Bantuan

Rizal menegaskan seluruh proses penanganan harus dilakukan secara hati-hati mengingat lokasi tersebut berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu (TNLL) yang memiliki status konservasi.

“Penanganan ini harus sangat hati-hati. Selain memperhatikan keselamatan masyarakat, lokasi tersebut juga berada di kawasan Taman Nasional Lore Lindu sehingga diperlukan koordinasi dan izin khusus,” jelasnya.

Sementara itu, perwakilan Balai Besar Taman Nasional Lore Lindu mengungkapkan bahwa pemetaan udara telah dilakukan sejak hari pertama pascagempa menggunakan drone. Namun proses pengambilan data sempat terkendala oleh kondisi abu dan cuaca di lapangan.

Baca Juga: Cendekia Society.ID Ambil Bagian dalam Aksi Kemanusiaan Pascagempa Sigi

Pada hari kedua, tim kembali menerbangkan drone untuk memperoleh data yang lebih akurat. Hasil pemetaan kemudian dianalisis hingga larut malam bersama sejumlah pihak yang terlibat dalam operasi penanganan bencana.

“Dari hasil analisis dan verifikasi, ditemukan longsoran dengan luas sekitar 38,11 hektare. Dari area longsoran tersebut terdapat 14 titik yang menjadi perhatian dan empat di antaranya membentuk genangan air,” ungkap perwakilan TNLL.

Dijelaskan, genangan terbesar berada di bagian hulu Sungai Kamarora dengan luas mencapai sekitar 14,02 hektare. Selain itu terdapat dua titik genangan di wilayah Sungai Keli dengan luas sekitar 9,4 hektare, serta satu titik lainnya berada di kawasan Sungai Kodina.

Menurut pihak TNLL, diperlukan pengecekan langsung di lapangan untuk memastikan apakah genangan tersebut berpotensi menimbulkan ancaman baru seperti banjir bandang atau jebolnya bendungan alami akibat material longsor.

“Kami berharap ada dukungan dari BNPB untuk melakukan kajian lebih mendalam terkait potensi bahayanya. Yang perlu diperhatikan bukan hanya skenario saat terjadi gempa, tetapi juga ketika turun hujan dengan intensitas tinggi,” katanya.

Ia menjelaskan, berbagai alternatif penanganan masih terus dikaji. Salah satunya kemungkinan melakukan normalisasi secara manual untuk mengurangi risiko longsor lanjutan.

“Kalau menggunakan alat berat, ada kekhawatiran justru memicu longsoran baru. Karena itu semua opsi harus melalui kajian teknis yang matang sebelum diputuskan langkah penanganannya,” tambahnya.

Di sisi lain, dampak gempa bumi di Kabupaten Sigi terus bertambah berdasarkan hasil pendataan terbaru yang dilakukan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sigi.

Kepala BPBD Sigi Henri Kusuma mengatakan hingga Jumat (19/6/2026), jumlah rumah yang mengalami kerusakan mencapai 2.319 unit. Rinciannya terdiri dari 1.966 rumah rusak ringan, 219 rumah rusak sedang, dan 134 rumah rusak berat.

Selain kerusakan rumah, jumlah warga terdampak juga meningkat menjadi 8.586 jiwa yang berasal dari 2.762 kepala keluarga.

“Korban luka berat sebanyak 17 orang, luka ringan 108 orang, dan tiga warga dinyatakan meninggal dunia,” kata Henri.

BPBD mencatat dampak gempa tersebar di 42 desa pada sembilan kecamatan, yakni Kecamatan Sigi Kota, Palolo, Nokilalaki, Tanambulava, Lindu, Dolo, Sigi Biromaru, Dolo Selatan, dan Gumbasa.

Beberapa desa yang mengalami dampak paling parah antara lain Desa Uneni, Tongoa, Kamarora A, Kamarora B, dan Desa Sintuwu.

Selain rumah warga, gempa juga merusak berbagai fasilitas umum, termasuk kantor pemerintahan, rumah ibadah, sekolah, dan fasilitas kesehatan. Tercatat sebanyak 16 masjid dan 63 gereja mengalami kerusakan, disusul 37 sekolah dan lima puskesmas yang turut terdampak.

Pemerintah Kabupaten Sigi bersama BNPB, TNI, Polri, relawan, dan berbagai pihak terkait terus melakukan langkah-langkah penanganan darurat sekaligus mengantisipasi potensi ancaman susulan yang dapat terjadi akibat kondisi geografis wilayah pascagempa.(***)

 

 

 

 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Empat titik #Kubangan #Di Kecamatan Nokillalaki #Pasca gempa bumi