RADAR PALU – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi berkekuatan Magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi bertambah menjadi tiga orang.
Informasi tersebut disampaikan Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae saat memimpin rapat Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Bencana Gempa Bumi di Kabupaten Sigi, Kamis (18/6/2026).
Rizal menjelaskan, korban pertama meninggal dunia saat bencana terjadi akibat serangan jantung yang dipicu situasi darurat pascagempa.
Baca Juga: Bulog Sulteng Salurkan Banpang untuk Korban Gempa di Sigi dan Palu
Selanjutnya, korban kedua meninggal dunia saat menjalani perawatan di RSUD Torabelo Sigi pada Rabu (17/6/2026) akibat luka yang diderita pascagempa.
Sementara itu, korban ketiga dilaporkan meninggal dunia pada Kamis (18/6/2026) dini hari saat menjalani perawatan medis di Rumah Sakit Bala Keselamatan (BK) Palu.
"Dari laporan terbaru yang kami terima, jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi di Kabupaten Sigi saat ini bertambah menjadi tiga orang," ungkap Rizal dalam rapat koordinasi penanganan bencana.
Baca Juga: Kepala BNPB Suharyanto Tinjau Lokasi Gempa Palolo Sigi, Ribuan Warga dan Ratusan Rumah Terdampak
Pemerintah Kabupaten Sigi menyampaikan duka cita mendalam kepada keluarga korban dan memastikan seluruh korban terdampak mendapatkan pelayanan kesehatan serta pendampingan yang diperlukan.
Selain korban meninggal dunia, ratusan warga lainnya masih menjalani perawatan akibat luka-luka yang dialami saat gempa mengguncang wilayah Kecamatan Palolo dan Nokilalaki.
Pemerintah daerah bersama BPBD, TNI, Polri, tenaga kesehatan, relawan, dan berbagai pihak terkait terus melakukan penanganan darurat, pendataan kerusakan, serta penyaluran bantuan kepada masyarakat terdampak.
Baca Juga: Workshop Konsultasi Publik Bahas Perubahan Perda Sigi Masagena agar Lebih Inklusif
Bupati juga meminta seluruh elemen masyarakat untuk tetap waspada terhadap potensi gempa susulan, namun tidak mudah terpancing informasi yang belum terverifikasi.
Ia mengimbau warga agar mengikuti arahan petugas di lapangan serta memanfaatkan posko-posko resmi yang telah disiapkan pemerintah.
Hingga saat ini, proses penanganan darurat masih terus berlangsung di sejumlah desa terdampak dengan fokus pada pemenuhan kebutuhan dasar warga, pelayanan kesehatan, serta percepatan pemulihan infrastruktur yang mengalami kerusakan akibat gempa.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin