Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Gempa M 6,7 Guncang Sulteng, Akademisi Untad Pernah Ingatkan Ancaman Sesar Sausu dan Poso

Muhammad Awaludin • Selasa, 16 Juni 2026 | 18:56 WIB
Kepala Laboratorium Palu-Koro FMIPA Universitas Tadulako, Ir. Dr. Abdullah, saat menjadi narasumber Podcast Radar Palu.
Kepala Laboratorium Palu-Koro FMIPA Universitas Tadulako, Ir. Dr. Abdullah, saat menjadi narasumber Podcast Radar Palu.

 

RADAR PALU – Gempa bumi magnitudo 6,7 yang mengguncang Kabupaten Sigi, Kota Palu, Parigi Moutong hingga Poso pada Selasa (16/6/2026) kembali membangkitkan ingatan masyarakat terhadap bencana gempa, tsunami, dan likuefaksi 28 September 2018 silam.

Di tengah perhatian publik yang kembali tertuju pada aktivitas Sesar Palu-Koro, ternyata para peneliti telah lama mengingatkan bahwa Sulawesi Tengah memiliki sejumlah sumber gempa aktif lain yang tak kalah penting untuk diwaspadai.

Salah satu peringatan itu pernah disampaikan Kepala Laboratorium Palu-Koro FMIPA Universitas Tadulako, Ir. Dr. Abdullah, saat menjadi narasumber Podcast Radar Palu pada peringatan empat tahun bencana 28 September 2018. 

Baca Juga: Askrindo Bayarkan Klaim Asuransi Contractor’s All Risk (CAR) Proyek Irigasi Di Samaku Banggai Akibat Force Majeure

Dalam diskusi tersebut, Abdullah menegaskan bahwa ancaman gempa di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari Sesar Palu-Koro yang dikenal luas pascabencana Palu-Donggala. 

Menurutnya, terdapat sesar aktif lain yang juga berpotensi memicu gempa kuat, yakni Sesar Sausu, sesar Poso dan sesar Tokararu yang masih berada di wilayah yang sama dan saling berdekatan.

"Ancaman gempa di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari satu sesar. Kita hidup di wilayah yang memiliki banyak sumber gempa aktif sehingga pengetahuan dan kesiapsiagaan menjadi kunci utama mengurangi risiko bencana," ujar Abdullah kala itu. 

Baca Juga: Geger Gempa M 6,7 Guncang Palu, Pria Ini Malah Asyik Mancing di Tepi Laut

Sejarah Gempa Besar Sulteng

Abdullah menjelaskan, catatan sejarah menunjukkan aktivitas kegempaan di Sulawesi Tengah telah berlangsung sejak lebih dari satu abad lalu.

Gempa besar pertama yang tercatat terjadi di kawasan Bada pada 1902. Gempa tersebut diduga sangat kuat hingga menyebabkan sejumlah patung megalit di Lembah Bada terbenam akibat fenomena yang kini dikenal sebagai likuefaksi atau dalam bahasa Kaili disebut Nalodo.

Lima tahun berselang, gempa besar kembali terjadi di Kulawi pada 1907. Aktivitas serupa berulang pada 1909 dan dalam sejumlah catatan disebut memicu gelombang besar di kawasan Danau Lindu.

Sulawesi Tengah juga mencatat sejumlah bencana gempa dan tsunami besar lainnya, seperti peristiwa tahun 1921, 1938, 1968 hingga gempa, tsunami dan likuefaksi Palu-Donggala pada 2018.

Menurut Abdullah, rangkaian sejarah tersebut menjadi bukti bahwa sumber gempa di Sulawesi Tengah tidak hanya berasal dari satu jalur patahan. 

Baca Juga: Gubernur Sulteng Anwar Hafid Batalkan Hadiri FGD DPD RI, Pilih Tinjau Korban Gempa M 6,7 di Sigi

Sesar Sausu di Kawasan Lore dan Bada

Dalam kajiannya, Abdullah menyoroti keberadaan Sesar Sausu yang membentang di kawasan Lore dan Bada.

Wilayah tersebut dikenal sebagai kawasan megalit yang menyimpan jejak aktivitas geologi masa lampau. Sejumlah gempa historis yang pernah terjadi di Lore Selatan dan Lembah Bada diduga berkaitan dengan aktivitas sesar tersebut.

Meski tidak sepopuler Palu-Koro, keberadaan Sesar Sausu menunjukkan bahwa ancaman gempa juga mengintai wilayah pedalaman Sulawesi Tengah.

Karena itu, penelitian lanjutan dinilai penting untuk memahami karakteristik serta potensi gempa maksimum yang dapat dihasilkan sesar tersebut.

Sesar Poso Tak Boleh Diabaikan

Selain Sausu, Abdullah juga menyoroti keberadaan Sesar Poso yang berada di wilayah Kabupaten Poso dan sekitarnya.

Sesar ini merupakan bagian dari sistem tektonik kompleks Sulawesi yang terbentuk akibat interaksi sejumlah lempeng bumi.

Aktivitas pada jalur patahan tersebut diyakini menjadi salah satu penyebab wilayah Poso beberapa kali mengalami gempa bumi dalam berbagai magnitudo.

Karena itu, menurut Abdullah, pendekatan mitigasi bencana di Sulawesi Tengah tidak boleh hanya berfokus pada Palu-Koro semata.

Gempa Terbaru Jadi Pengingat

Gempa magnitudo 6,7 yang terjadi Selasa siang kembali menjadi pengingat bahwa Sulawesi Tengah merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas tektonik tertinggi di Indonesia.

Meski BMKG memastikan gempa tersebut tidak berpotensi tsunami, puluhan gempa susulan yang terjadi setelahnya menunjukkan aktivitas kegempaan di kawasan ini masih sangat dinamis.

Para ahli menilai pemahaman masyarakat terhadap berbagai sumber gempa aktif, termasuk Palu-Koro, Sausu, dan Poso, perlu terus diperkuat sebagai bagian dari upaya mitigasi bencana.

Belajar dari sejarah panjang kegempaan Sulawesi Tengah, kesiapsiagaan dan edukasi kebencanaan tetap menjadi langkah paling efektif untuk mengurangi risiko korban jiwa maupun kerugian ketika gempa besar kembali terjadi.***

Editor : Muhammad Awaludin
#sesar sausu #Gempa Sulteng #sesar Poso #Mitigasi bencana #gempa Palu