Oleh: Dedi Askary
(Ketua PABKI Kabupaten Parigi Moutong-Dewan Pembina PABKI Sulteng)
PERJALANAN sebuah cabang olahraga untuk mendapatkan pengakuan di tingkat nasional sering kali bermula dari gerakan akar rumput (grassroots).
Fenomena ini terlihat jelas dalam perkembangan olahraga lempar Bilah dan Kapak di Indonesia, yang secara konsisten bertransformasi dari sekadar kumpul komunitas hobi menjadi sebuah organisasi olahraga nasional yang terstruktur, formal, dan diakui.
Melalui rekam jejak kronologis yang terukur, olahraga ini membuktikan bahwa konsistensi, penguatan kelembagaan, serta keterbukaan terhadap kompetisi internasional merupakan pilar utama dalam membangun eksistensi sebuah cabang olahraga baru di tanah air.
Berikut adalah fase-fase krusial transformasi olahraga tersebut:
1. Tahun 2010 – Fase Inkubasi Komunitas (D'Lempis)
Awal mula pergerakan ditandai dengan tumbuhnya komunitas penggiat lempar pisau di Indonesia yang dikenal dengan nama *D'Lempis*. Pada fase awal ini, aktivitas masih bersifat komunal, rekreatif, dan didorong sepenuhnya oleh antusiasme para penghobi yang ingin menyalurkan minat mereka dalam lingkungan yang lebih aman dan terarah.
2. Tahun 2017 – Fase Pengorganisasian Wadah (Porlempika)
Setelah tujuh tahun bergerak dalam skala komunitas lokal, kesadaran akan pentingnya manajemen organisasi yang solid mulai muncul.
Baca Juga: Gubernur Senang, Mengaku Baru Kali ini Tabur Bunga dengan Kapal Perang di Teluk Palu
Komunitas dan berbagai klub lempar pisau yang tersebar di berbagai wilayah mulai melebur dan bergerak ke arah wadah yang lebih terorganisir melalui pembentukan “Porlempika”.
Langkah ini menjadi batu pijakan penting untuk menyeragamkan aturan main dan standardisasi keselamatan.
3. Tahun 2018 – Fase Internasionalisasi (JKT & MENWA UI)
Hanya setahun setelah pengorganisasian awal, olahraga ini mendapat panggung besar melalui pelaksanaan tournament di Universitas Indonesia (UI).
Baca Juga: Pemeriksaan Rutin Cegah Stunting, Investasi Kesehatan untuk Masa Depan Anak
Berkolaborasi dengan JKT dan Resimen Mahasiswa (MENWA) UI, ajang ini menjadi momentum pembuka bagi turnamen terbuka berskala dunia (open tournament) pertama di Indonesia, yang berhasil memosisikan penggiat lokal di dalam peta persaingan internasional.
4. Tahun 2021 – Fase Formalisasi Kelembagaan (Lempiknas)
Pengakuan struktur formal di tingkat nasional tercapai ketika olahraga ini resmi memasuki fase kelembagaan nasional melalui wadah Lempiknas.
Langkah strategis ini mempertegas status olahraga lempar pisau sebagai disiplin yang diakui secara nasional dengan regulasi yang mengikat secara formal.
Baca Juga: Dari KSAD hingga Menteri Pertahanan, Kiprah Ryamizard Ryacudu Kini Menjadi Sejarah
5. Tahun 2026 – Fase Konsolidasi Tata Kelola Global (PABKI)
Pada tahun 2026, organisasi resmi PABKI (Persatuan Olahraga Lempar Bilah dan Kapak Indonesia) telah memasuki fase krusial baru. Fokus utama pada era ini mencakup konsolidasi tata kelola organisasi yang profesional, standardisasi keselamatan yang ketat, ekspansi kepengurusan di tingkat daerah, serta kesiapan penuh untuk bersaing dan berbicara di panggung dunia.
Makna dan Filosofi Perkembangan
Esensi utama dari perjalanan kronologis ini dapat dirangkum dalam satu kesimpulan filosofis:
Olahraga ini tumbuh secara organik dari bawah, lalu membesar seiring waktu, hingga akhirnya diterima secara nasional dan kini siap berdiri tegak serta bicara pada panggung dunia."
Baca Juga: Pemkot Palu Borong Dua Penghargaan Bergengsi Regional Sulawesi 2026
Transformasi ini menjadi contoh nyata bagaimana sebuah disiplin olahraga yang awalnya dianggap sebagai hobi spesifik, mampu mendobrak batas rekreasi menuju prestasi global melalui pengelolaan organisasi yang berkesinambungan dan profesional.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin