RADAR PALU – Ancaman perlambatan ekonomi global hingga tekanan efisiensi anggaran mulai dirasakan daerah. Di tengah situasi itu, Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah memilih mempercepat pelaksanaan program prioritas nasional agar dampaknya tetap terasa di masyarakat.
Pesan itu disampaikan Gubernur Sulawesi Tengah, Anwar Hafid, saat membuka Rapat Koordinasi Evaluasi Pelaksanaan Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden RI Tahun 2026 di Gedung Serbaguna Matano, Morowali, Kamis (13/5/2026).
“Hari ini saya tidak hanya berdiri sebagai gubernur, tetapi juga mewakili pemerintah pusat di daerah. Fokus kita adalah memastikan program Asta Cita benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat di seluruh kabupaten dan kota di Sulawesi Tengah,” tegas Anwar.
Baca Juga: Usai Dituntut 18 Tahun, Nadiem Jalani Operasi Ditemani Sang Istri
Dampak Global Mulai Dirasakan
Dalam arahannya, Anwar menyinggung kondisi global yang ikut memengaruhi ekonomi daerah.
Ia mencontohkan perang dan ketidakstabilan harga minyak dunia yang berdampak terhadap ruang fiskal pemerintah daerah.
Menurutnya, situasi itu membuat sinergi antara pemerintah pusat, provinsi, dan kabupaten/kota menjadi semakin penting.
Baca Juga: Kapolres Parimo Tegaskan Pelayanan Humanis dalam Sertijab Pejabat Strategis
“Program nasional ini menjadi kekuatan penting bagi daerah. Karena itu, sinergi pusat, provinsi, dan kabupaten/kota harus diperkuat agar seluruh program berjalan tepat sasaran,” ujarnya.
MBG Jadi Mesin Ekonomi Baru
Salah satu program yang menjadi perhatian utama dalam rapat tersebut adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah saat ini terus mempercepat penguatan layanan melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
Dari target 307 unit SPPG, sebanyak 228 unit atau sekitar 74,26 persen disebut telah beroperasi.
Baca Juga: Kajari Baru Parigi Moutong Masih Adaptasi, Pilih Pelajari Kondisi Daerah
Layanan itu menjangkau sekitar 900 ribu siswa di 13 ribu sekolah di Sulawesi Tengah.
Tak hanya soal gizi, program tersebut juga mulai menciptakan dampak ekonomi baru di daerah.
Lebih dari 10 ribu relawan dilibatkan dalam pelaksanaan program di berbagai wilayah Sulawesi Tengah.
Bukan Sekadar Rapat Formal
Anwar Hafid menegaskan rapat koordinasi di Morowali bukan agenda seremonial semata.
Ia menyebut pertemuan itu menjadi momentum menyatukan langkah pemerintah daerah menghadapi tantangan pembangunan yang semakin kompleks.
“Keberadaan kita di Morowali hari ini bukan sekadar formalitas, tetapi bagian dari upaya menyatukan kekuatan menghadapi dinamika global dan kebutuhan reformasi birokrasi,” ungkapnya.
Selain MBG, rapat tersebut juga membahas penguatan ketahanan pangan hingga penanganan anak tidak sekolah sebagai bagian dari pelaksanaan program prioritas nasional di daerah.***
Editor : Muhammad Awaludin