RADAR PALU - Pengalihan arus lalu lintas yang dilakukan ESSA melalui PT Panca Amara Utama (PAU) menuai sorotan tajam.
Kebijakan tersebut dinilai tidak hanya mengganggu aktivitas masyarakat, tetapi juga berpotensi besar mengancam keselamatan pengguna jalan.
Di lapangan, kondisi jalur pengalihan memprihatinkan. Bahu jalan di sejumlah titik dilaporkan mengalami longsor cukup parah, menyisakan badan jalan hanya sekitar satu meter.
Baca Juga: May Day di Banggai, Pemerintah Kabupaten Olahraga Bersama Pekerja
Kondisi ini memaksa kendaraan melintas secara bergantian dengan risiko tinggi, terutama bagi kendaraan roda empat.
Lebih mengkhawatirkan lagi, terdapat rongga di bawah permukaan jalan yang sewaktu-waktu berpotensi ambruk. Situasi ini semakin berbahaya mengingat intensitas hujan yang masih tinggi, yang dapat mempercepat kerusakan struktur jalan.
Ketua Jaringan Advokasi Rakyat Lingkar Industri (JARRI) Banggai, Raswin Baka, SH., MH, menilai kondisi tersebut sebagai bentuk kelalaian serius yang tidak bisa ditoleransi.
Baca Juga: Gas LPG Langka dan Mahal, Warga Banggai Kesulitan Penuhi Kebutuhan Sehari-hari
“Ini bukan sekadar persoalan teknis pengalihan arus, tetapi menyangkut nyawa manusia. Ketika jalan dalam kondisi rusak parah, sempit, bahkan berpotensi ambruk, lalu tetap dipaksakan untuk dilalui masyarakat, itu jelas bentuk pengabaian terhadap keselamatan publik,” tegas Raswin.
Menurutnya, pihak perusahaan bersama instansi terkait seharusnya memastikan terlebih dahulu kesiapan jalur alternatif sebelum melakukan pengalihan arus.
Ia menilai langkah yang diambil saat ini terkesan terburu-buru dan tidak melalui kajian risiko yang matang.
Baca Juga: HIPKA Banggai Didorong Jadi Motor Lahirnya Pengusaha Muda dan Penggerak Ekonomi Daerah
“Kalau jalur pengalihan tidak layak, jangan dipaksakan. Hentikan dulu aktivitas yang menjadi penyebab pengalihan, dalam hal ini kegiatan Turn Around (TA), sampai ada jaminan keamanan bagi masyarakat,” tambahnya.
Risiko kecelakaan juga meningkat tajam pada malam hari. Minimnya penerangan, bahkan di beberapa titik tidak tersedia lampu jalan sama sekali, membuat pengendara harus ekstra waspada.
Kondisi gelap, ditambah jalan sempit dan licin saat hujan, menjadi kombinasi yang sangat berbahaya.
Baca Juga: APBD Banggai 2025 Defisit, Ketergantungan Transfer Jadi Sorotan
“Ini seperti jebakan bagi pengguna jalan. Gelap, sempit, rusak, dan tidak ada pengamanan maksimal. Kalau terjadi kecelakaan, siapa yang akan bertanggung jawab?” ujar Raswin mempertanyakan.
Selain ancaman keselamatan, dampak ekonomi juga mulai dirasakan masyarakat. Pengalihan arus sejauh kurang lebih 12 kilometer membuat waktu tempuh menjadi lebih lama dan biaya operasional meningkat, terutama bagi pengemudi taksi lokal dan pelaku usaha transportasi.
“Masyarakat dipaksa menanggung beban tambahan. BBM bertambah, waktu terbuang, sementara keselamatan tidak dijamin. Ini jelas tidak adil,” katanya.
Diketahui, pengalihan arus ini dilakukan sebagai dampak dari kegiatan Turn Around (TA) PT Panca Amara Utama yang berkaitan dengan perawatan pipanisasi bawah tanah di bawah badan jalan.
Kegiatan tersebut disebut telah mengantongi rekomendasi dari Dinas Perhubungan Kabupaten Banggai.
Namun, Raswin menegaskan bahwa rekomendasi tersebut tidak boleh dijadikan pembenaran jika di lapangan justru membahayakan masyarakat.
Baca Juga: Satgas MBG Banggai Perketat Standar SPPG, Wajib Penuhi SLHS dan IPAL
“Rekomendasi itu bukan cek kosong. Kalau faktanya membahayakan, maka harus dievaluasi bahkan dicabut. Keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi,” tegasnya.
JARRI Banggai pun mendesak agar pemerintah daerah, khususnya Dinas Perhubungan dan instansi terkait lainnya, segera turun tangan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap jalur pengalihan tersebut.
“Kami mendesak pemerintah tidak tutup mata. Jangan tunggu ada korban baru bergerak. Segera perbaiki jalur atau hentikan sementara pengalihan arus sampai benar-benar aman dilalui,” pungkas Raswin.
Baca Juga: Menuju Desa Definitif, Pemkab Banggai Resmikan Pemekaran Desa Mekar Mulya
Hingga kini, masyarakat yang melintas di jalur tersebut hanya bisa berharap adanya penanganan cepat sebelum potensi bencana benar-benar terjadi.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin