Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Hasil Satelit, BMKG Deteksi 54 Titik Panas di Sulteng, Dua Berstatus Tinggi

Mugni Supardi • Jumat, 24 April 2026 | 22:05 WIB
Berdasarkan data satelit yang di-update pada 24 April 2026 pukul 00.00-16-00 WIB, tercatat sebanyak 54 titik panas tersebar di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.(bmkg.go.id)
Berdasarkan data satelit yang di-update pada 24 April 2026 pukul 00.00-16-00 WIB, tercatat sebanyak 54 titik panas tersebar di sejumlah wilayah Sulawesi Tengah.(bmkg.go.id)

RADARPALU – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendeteksi puluhan titik panas (hotspot) di wilayah Sulawesi Tengah pada Jumat (24/4).

Berdasarkan data satelit periode pukul 00.00 hingga 16.00 WIB, tercatat sebanyak 54 titik panas tersebar di sejumlah wilayah.

Dari jumlah tersebut, dua titik masuk kategori tingkat kepercayaan tinggi, 46 titik berstatus sedang, dan enam titik berstatus rendah.

Baca Juga: Jauhi Zona Degradasi, Laskar Kalinyamat Tumbangkan Badai Pasifik Dua Gol Tanpa Balas

Deteksi hotspot ini diperoleh melalui pemantauan satelit Terra, Aqua, S-NPP, dan NOAA20 yang mengidentifikasi anomali suhu panas di permukaan bumi dibandingkan lingkungan sekitarnya.

BMKG menjelaskan, titik panas menjadi indikator awal potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), meskipun tidak seluruhnya dapat dipastikan sebagai kejadian kebakaran.

“Hotspot memberikan gambaran lokasi yang terindikasi mengalami peningkatan suhu signifikan, yang berpotensi terkait aktivitas kebakaran,” demikian keterangan BMKG dalam rilisnya.

Baca Juga: Seismisitasnya Naik, 179 Gempa Terjadi dalam Sepekan di Sulteng 

Pengamatan dilakukan secara berkala baik pada siang maupun malam hari. Namun, BMKG juga mengingatkan bahwa deteksi dapat terhambat di wilayah yang tertutup awan atau blank spot.

Munculnya puluhan titik panas ini menjadi sinyal kewaspadaan, terutama di tengah kondisi cuaca panas yang melanda sejumlah wilayah Sulawesi Tengah dalam beberapa hari terakhir.

Masyarakat diimbau tidak melakukan aktivitas pembakaran lahan maupun sampah yang dapat memicu kebakaran. Selain itu, pemerintah daerah dan pihak terkait diharapkan meningkatkan pengawasan di wilayah rawan.

 

Dengan adanya titik panas berstatus tinggi, potensi kebakaran lahan perlu diantisipasi lebih dini guna mencegah meluasnya dampak, baik terhadap lingkungan maupun kesehatan masyarakat. (*)

Editor : Mugni Supardi
#hotspot BMKG #BMKG hotspot 2026 #titik panas sulteng #Kebakaran Lahan #karhutla sulawesi tengah