Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Di Balik Pro-Kontra MBG, Dapur SPPG Baliase Sigi Jadi Harapan Baru Warga

Angel Sumbara • Kamis, 23 April 2026 | 07:08 WIB
DAPUR: Inilah dapur SPPG Jaya Abadi di Kabupaten Sigi.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).
DAPUR: Inilah dapur SPPG Jaya Abadi di Kabupaten Sigi.(FOTO: ANGEL SUMBARA/RADAR PALU).

RADAR PALU – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) hingga kini masih menuai protes di sejumlah daerah. Persoalan teknis, distribusi, hingga kesiapan di lapangan kerap menjadi sorotan.

Namun di balik riuh kritik itu, ada cerita lain yang tumbuh perlahan—tentang harapan, pekerjaan, dan roda ekonomi yang mulai bergerak di tingkat desa.

Cerita itu datang dari Dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) AAA Jaya Abadi yang beroperasi di Yayasan Ummu Alyssa Putri, Desa Baliase, Kecamatan Marawola, Kabupaten Sigi.

Baca Juga: Jelang Penutupan, Paskah Nasional 2026 di Sigi Masuki Tahap Finalisasi

Di tempat ini, MBG tak sekadar program pemenuhan gizi. Ia menjelma menjadi sumber penghidupan bagi puluhan warga lokal.

Kepala SPPG AAA Jaya Abadi, Agus Prasetyo, menuturkan dapur tersebut mulai beroperasi sejak November 2025 dan kini telah berjalan sekitar enam bulan.

“Awalnya kami melayani sekitar 997 penerima manfaat. Sekarang sudah mencapai 2.997 penerima manfaat,” ujarnya Selasa (22/4/2026).

Baca Juga: Mensos Tinjau SRMP 22 Kabupaten Sigi, Batasi Gadget, Genjot Sekolah Permanen demi Masa Depan Siswa

Jumlah itu mencakup 18 sekolah dan tiga posyandu di Desa Baliase. Meski begitu, pelayanan tetap menyesuaikan dengan kondisi di lapangan, seperti jadwal libur sekolah atau kehadiran siswa.

“Jadi kami melayani sesuai konfirmasi dari pihak sekolah,” tambahnya.

Di tengah dinamika tersebut, Agus mengakui masih ada berbagai kendala, terutama terkait teknis, waktu, dan koordinasi. Namun menurutnya, hal itu menjadi bagian dari proses pembelajaran.

Baca Juga: Mensos Tinjau SRMP 22 Kabupaten Sigi, Batasi Gadget, Genjot Sekolah Permanen demi Masa Depan Siswa

“Yang terpenting adalah komunikasi. Kami terus berkoordinasi dengan sekolah dan posyandu agar pelayanan tetap berjalan baik,” jelasnya.

Lebih dari sekadar distribusi makanan, dapur SPPG ini juga membawa dampak nyata bagi masyarakat sekitar.

Sekitar 50 orang terlibat dalam operasional, terdiri dari 47 relawan dan tiga staf Badan Gizi Nasional, termasuk kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan.

Baca Juga: Pemkab Sigi Benahi Data Sekolah Rakyat, Fokus Tepat Sasaran dan Dorong Ekonomi Keluarga

Menariknya, lebih dari 30 persen tenaga kerja berasal dari warga lokal Desa Baliase.

“Yang kami utamakan adalah menyerap tenaga kerja dari masyarakat sekitar,” kata Agus.

Puluhan pekerja itu terbagi dalam berbagai divisi, mulai dari asisten lapangan, persiapan, pengolahan, pengemasan, distribusi, hingga kebersihan dan keamanan.

Baca Juga: Germas SAPA Didorong di Sigi, Pemda Tekankan Keamanan Pangan Tak Boleh Berhenti di Sosialisasi

Aktivitas dapur bahkan dimulai saat sebagian besar warga masih terlelap. Nilam, salah satu tim pengolahan, mengaku memulai hari kerjanya sejak tengah malam.

“Saya masuk jam 12 malam, mulai aktivitas jam 1. Alhamdulillah, saya bersyukur sekali bisa kerja di sini,” tuturnya.

Baginya, pekerjaan ini bukan sekadar rutinitas, tetapi juga penopang ekonomi keluarga.

Baca Juga: Terbongkar! Jalur Sabu Antar Provinsi Digagalkan, Pelaku Diciduk di Sigi

“Dampaknya sangat terasa, terutama untuk ekonomi. Saya berharap program ini bisa terus berlanjut,” ujarnya.

Hal senada disampaikan Dian Godong, asisten lapangan yang bertugas memastikan distribusi berjalan tepat sasaran. Ia bertanggung jawab mengawal proses dari dapur hingga makanan diterima oleh para penerima manfaat.

“Tugas kami memastikan semua sesuai data, tepat sasaran, dan distribusi berjalan lancar,” katanya.

Baca Juga: Pemkab Sigi Benahi Data Sekolah Rakyat, Fokus Tepat Sasaran dan Dorong Ekonomi Keluarga

Meski menghadapi tantangan dalam menyatukan persepsi puluhan relawan agar tetap mengikuti standar operasional, Dian menyebut hal itu bisa diatasi dengan koordinasi yang baik.

“Alhamdulillah semua bisa terakomodir,” ucapnya.

Ia pun tak menampik bahwa program MBG memberi dampak besar bagi kehidupan keluarganya.

Baca Juga: Tagihan BPJS Tembus Rp6 Miliar, Sigi Temukan Banyak Data Warga Tak Valid

“Terima kasih karena program ini sangat membantu perekonomian keluarga kami,” ungkapnya.

Kini, penerima manfaat MBG di Baliase tak hanya siswa, tetapi juga tenaga kependidikan seperti petugas kebersihan, tata usaha, hingga petugas keamanan sekolah. Selain itu, ibu hamil dan ibu menyusui juga turut menerima manfaat program ini.

Di tengah segala kekurangan dan evaluasi yang masih terus dilakukan, harapan tetap tumbuh dari dapur sederhana ini.

Baca Juga: Kejar Pemerataan Pendidikan, Sigi Pacu Pembangunan Sekolah Terintegrasi di Marawola

Agus berharap, program MBG tidak hanya berkelanjutan, tetapi juga mampu meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

“Mudah-mudahan program ini berjalan baik, membawa berkah, dan kebutuhan gizi masyarakat bisa terpenuhi,” harapnya.

Di Baliase, MBG mungkin masih menyisakan catatan. Namun bagi sebagian warga, program ini sudah lebih dulu menghadirkan perubahan dari dapur yang menyala sejak dini hari, hingga harapan yang ikut terhidang di setiap porsi makanan.(***) 

Editor : Muchsin Siradjudin
#Masih menuai protes #Roda ekonomi mulai bergerak #Menyesuaikan dengan kondisi lapangan #Penerima manfaat