Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Hari Bumi, Seminar Ungkap Data Kritis Mangrove dan Dorong Rehabilitasi Berbasis Ilmiah di Sulteng

Wahono. • Rabu, 22 April 2026 | 21:57 WIB
Suasana diskusi interaktif dalam Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Tahura Sulawesi Tengah di Gedung Serbaguna Fahutan Untad, Selasa (22/4/2026).
Suasana diskusi interaktif dalam Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Tahura Sulawesi Tengah di Gedung Serbaguna Fahutan Untad, Selasa (22/4/2026).

 

RADAR PALU – Peringatan Hari Bumi dimaknai dengan langkah konkret melalui Seminar Hasil Kajian Spesies Ekosistem Mangrove, Perhutanan Sosial, dan Taman Hutan Raya (Tahura) Sulawesi Tengah, Selasa (22/4/2026).

 

Kegiatan yang digelar di Gedung Serbaguna Fakultas Kehutanan (Fahutan) Untad ini menegaskan pentingnya rehabilitasi ekosistem berbasis data ilmiah.

 

Seminar menghadirkan kolaborasi antara Relawan untuk Orang dan Alam (ROA) dan Fahutan Untad, serta melibatkan akademisi, pemerintah, hingga komunitas lokal.

 

Baca Juga: Pemprov Sulteng Alokasikan Rp12 M Biaya Haji 2026

 

Dekan Fahutan, Prof. Dr. Sc, Agr. Ir. Yusran, menegaskan bahwa hasil kajian yang dipaparkan tidak hanya bersifat akademik, tetapi juga aplikatif dalam mendukung kebijakan lingkungan.

 

“Materi yang disampaikan mencakup kondisi lapangan dan rekomendasi teknis sebagai dasar perumusan kebijakan rehabilitasi yang terukur,” ujarnya.

 

Salah satu temuan penting disampaikan Dr Bau Toknok terkait kondisi mangrove di Desa Oncone Raya. Dari total luas 31,44 hektare, hanya sekitar 18,7 persen yang masih berupa vegetasi mangrove.

 

Sementara itu, 50,3 persen telah beralih menjadi tambak dan 31 persen menjadi lahan terbuka.

 

Kondisi ini menunjukkan tekanan serius terhadap ekosistem pesisir. Oleh karena itu, pendekatan rehabilitasi dilakukan tidak hanya berbasis data biofisik, tetapi juga melibatkan masyarakat melalui diskusi kelompok dan pengetahuan lokal.

 

Baca Juga: Terkendala OSS, Pemkot Palu Siapkan Langkah Cepat Percepat Perizinan Usaha

 

“Sabuk pesisir yang sehat, masyarakat yang kuat,” tegasnya.

 

Sementara itu, kajian Tahura Sulawesi Tengah mengungkap kawasan seluas 5.195 hektare memiliki peran strategis sebagai lanskap konservasi. Pengelolaannya dibagi dalam beberapa zonasi untuk mendukung perlindungan hingga rehabilitasi.

 

Seminar ini juga memperkuat kolaborasi lintas sektor, sekaligus menjadi pengingat di Hari Bumi bahwa penyelamatan lingkungan membutuhkan sinergi dan berbasis data yang kuat.

Editor : Wahono.
#iklim #Diskusi publik #mangrove #ekosistem digital #sulteng