RADAR PALU - Penolakan terhadap rencana pembangunan portal otomatis di kawasan Pasar Simpong, Luwuk, mulai disuarakan oleh masyarakat yang beraktivitas di sekitar lokasi. Sejumlah pedagang dan tukang ojek menilai kebijakan tersebut tidak memberikan manfaat, bahkan berpotensi merugikan mereka.
Para pedagang mengungkapkan kekhawatiran bahwa keberadaan portal otomatis akan membatasi akses keluar masuk kendaraan ke area pasar. Hal ini dinilai dapat mengurangi jumlah pengunjung dan berdampak langsung pada pendapatan mereka.
“Kalau harus lewat portal, pembeli pasti berpikir dua kali untuk masuk ke pasar. Kami takut pendapatan jadi menurun,” ujar Rahma, salah satu pedagang sembako di Pasar Simpong.
Baca Juga: Mendes PDT Fokus Penguatan Ekonomi Desa di Banggai Bersaudara
Hal serupa juga disampaikan oleh para tukang ojek yang biasa mangkal di sekitar pasar. Mereka menilai portal otomatis akan menghambat mobilitas dan menyulitkan aktivitas harian mereka dalam mencari penumpang.
“Biasanya kami bebas keluar masuk untuk antar jemput penumpang. Kalau ada portal, pasti lebih ribet dan bisa bikin penumpang tidak mau naik ojek dari sini,” kata Ardi, tukang ojek di kawasan tersebut.
Selain itu, kekhawatiran mengenai kemungkinan adanya biaya tambahan untuk melintas melalui portal juga menjadi sorotan masyarakat. Mereka menilai hal tersebut justru akan menambah beban ekonomi di tengah kondisi yang sudah cukup sulit.
Baca Juga: Kolaborasi Pemkab Bersama Perusahaan Tingkatkan PKPMD di Kabupaten Banggai
“Kalau sampai harus bayar lagi untuk lewat, jelas kami keberatan. Penghasilan saja tidak menentu setiap hari,” tambah Yanto, pedagang lainnya.
Masyarakat berharap rencana pembangunan portal otomatis tersebut dapat dikaji ulang dengan mempertimbangkan dampaknya secara langsung terhadap pelaku usaha kecil dan pekerja informal di kawasan pasar.
Mereka menilai kebijakan yang diambil seharusnya mempermudah aktivitas ekonomi, bukan sebaliknya.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin