RADARPALU – Peristiwa gempa besar yang mengguncang Palu pada 2018 menjadi pengingat penting bagi masyarakat untuk memahami langkah mitigasi bencana secara tepat.
Gempa tersebut tidak hanya menimbulkan guncangan, tetapi juga memicu likuifaksi, longsor, hingga tsunami yang memperparah dampak kerusakan.
"Tsunami yang terjadi saat itu salah satunya dipicu oleh longsoran di tebing pesisir Teluk Palu serta deformasi dasar teluk," sebut Staf BMKG Stasiun Geofisika Kelas I Palu, Hendrik Jumat (17/4/2026).
Baca Juga: BMKG Geofisika Palu Minta Warga Jangan Mudah Percaya Hoaks Soal Gempa
Belajar dari kejadian tersebut, Hendrik mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kesiapsiagaan, terutama bagi yang tinggal di wilayah rawan.
Warga yang berada di kawasan pesisir diminta segera melakukan evakuasi mandiri ke zona aman sejauh 1–2 kilometer dari pantai atau menuju dataran tinggi saat gempa terjadi.
Sementara itu, masyarakat di wilayah perbukitan atau tebing diingatkan untuk menghindari jalur rawan longsor saat terjadi guncangan.
Baca Juga: Inter Hajar Cagliari 3-0, Thuram Cs Semakin Kokoh di Puncak Klasemen
"Selain itu, zona rawan bencana yang telah ditetapkan pemerintah pascagempa 2018 perlu terus disosialisasikan, terutama kepada generasi muda," terang Hendrik.
Tak kalah penting, keselamatan di dalam rumah juga harus diperhatikan. Saat gempa terjadi kata Hendrik, aktivitas memasak harus segera dihentikan dengan mematikan kompor sebelum melakukan evakuasi.
Langkah sederhana tersebut dinilai penting untuk mencegah risiko kebakaran yang dapat memperparah situasi saat bencana.
Dengan pemahaman mitigasi yang baik, masyarakat diharapkan lebih siap menghadapi potensi gempa di masa mendatang.(*)
Editor : Mugni Supardi