RADAR PALU - Sekira 7.000 jamaah memadati lokasi pelaksanaan Haul ke-58 Guru Tua Habib Idrus bin Salim Al-Jufri yang berlangsung di Kolonodale, Morowali Uara (Morut), Minggu (12/4/2026).
Acara ini dihadiri para habaib, pengurus Alkhairaat, pemerintah daerah, Forkopimda, DPRD, serta tokoh agama dan masyarakat.
Peringatan haul yang untuk pertama kalinya digelar di daerah itu diprakarsai Hj Warda Dg Mamala atas restu Pengurus Besar (PB) Alkhairaat.
Baca Juga: Dukung Empat Ranperda Morut, Ketua Fraksi Hanura Bangkit Berjuang Ingatkan Kemandirian Fiskal Daerah
Acara ini dihadiri oleh Ketua Utama Alkhairaat, H.S. Alwi Saggaf Aljufri, Ketua Umum Pengurus Besar Alkhairaat, H.S. Mohsen Alaydrus beserta jajaran pengurus Alkhairaat dari seluruh Sulawesi Tengah.
Kegiatan ini turut dihadiri oleh Sekretaris Kabupaten Morut, Musda Guntur mewakili unsur pemerintah daerah sebagai bentuk dukungan pemerintah terhadap kegiatan keagamaan tersebut.
Warda Mamala yang juga Ketua DPRD Morut, dalam sambutannya mengaku terharu melihat besarnya animo masyarakat.
Baca Juga: DPRD Morowali Utara Bahas Empat Ranperda Strategis 2026
"Begitu saya masuk lapangan, saya cukup terharu karena ternyata magnetnya haul ini luar biasa," ujarnya.
Warda menegaskan, Haul Guru Tua bukan sekadar seremoni keagamaan. Kegiatan ini menjadi momentum memperkuat kecintaan kepada Guru Tua sekaligus mempererat nilai keislaman di tengah masyarakat.
Ia mengajak seluruh jamaah untuk bersyukur atas kesempatan berkumpul dalam keadaan sehat, sekaligus memanjatkan doa untuk keberkahan daerah.
Baca Juga: Untuk Kali Pertama Haul Guru Tua di Morut, Digagas untuk Hormati Ulama dan Satukan Umat
"Ini haul pertama di Morowali Utara dan menjadi kebanggaan besar karena dihadiri langsung pimpinan Alkhairaat," katanya.
Kehadiran ribuan jamaah menunjukkan tingginya mahabbah atau cintaan masyarakat, meskipun sebagian besar tidak pernah bertemu langsung dengan Guru Tua.
Warda menekankan bahwa keberhasilan haul tidak ditentukan oleh kekuatan finansial, melainkan oleh rasa cinta kepada Guru Tua.
Baca Juga: Kasus Penjualan Tanah Desa Tamainusi Seret Nama Sejumlah Pejabat, Laporannya Mandek di Polres Morut
"Pelaksanaan haul ini bukan persoalan siapa yang punya uang, tapi persoalan kecintaan kita terhadap Guru Tua," tegasnya.
Jamaah dari berbagai kecamatan hadir dengan satu tujuan: memohon keberkahan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi keluarga dan daerah.
Dalam kesempatan tersebut, Warda juga mengulas sejarah masuknya Alkhairaat di Morut.
Baca Juga: Lewati Dua Kali Penambahan Waktu, Proyek Rp22,5 M Kejari Morut Belum Juga Rampung
Pada 1964, para tokoh masyarakat berjuang keras menyebarkan pendidikan Islam. Mereka menempuh perjalanan laut dan darat untuk mengajak masyarakat menyekolahkan anak ke Alkhairaat, bahkan hingga ke Parigi.
Para guru saat itu mengajar di fasilitas sederhana, tanpa birokrasi rumit. Dari perjuangan tersebut lahir banyak tokoh pendidikan Islam di berbagai daerah.
Meski Alkhairaat berkembang pesat di Morut, Warda mengakui masih banyak tantangan, terutama terkait kesejahteraan guru.
Baca Juga: Pemkab Morut Percepat Penanganan Kemiskinan dan Stunting Lewat BPJS Ketenagakerjaan
Banyak tenaga pengajar di madrasah Alkhairaat masih jauh dari kondisi sejahtera karena status lembaga yang sebagian besar swasta.
"Kita tidak perlu lagi melihat ini swasta atau bukan. Alkhairaat harus kita perkuat bersama," ujarnya.
Sebagai solusi jangka panjang, Warda mengungkap rencana pembangunan Alkhairaat di Soyojaya di atas lahan hibah seluas 20 hektare.
Baca Juga: Pawai Takbir Keleliling Morut Sukses Digelar
Pembangunan ini diharapkan menjadi pusat pendidikan Islam modern di Morut.
Warda menegaskan bahwa proyek ini tidak boleh berhenti pada seremoni peletakan batu pertama.
"Jangan sampai hanya peletakan batu pertama dan terakhir," tegasnya.
Baca Juga: DPRD Morowali Utara Bahas Empat Ranperda Strategis 2026
Untuk mendukung pembangunan dan operasional pendidikan, Warda menyiapkan skema pembiayaan mandiri melalui pengelolaan aset produktif.
Aset tersebut meliputi 100 hektare lahan sawit dan 800 ekor sapi. Hasil pengelolaan akan digunakan untuk pembangunan, gaji guru Alkhairaat, serta kebutuhan santri.
"Tujuannya untuk menciptakan sistem pendidikan yang berkelanjutan," tandasnya.
Baca Juga: Nusron Wahid Sebut Lahan PTPN di Morowali Utara Tak Bisa Sembarangan Dilepas
Warda menegaskan pentingnya kolaborasi antara DPRD dan pemerintah daerah dalam menghadirkan program yang langsung menyentuh masyarakat.
Ia membuka ruang bagi anggota DPRD untuk mengusulkan program prioritas.
"Saya ini cuma jurubayar, silakan buat program yang langsung menyentuh umat," katanya.
Baca Juga: Polres Morowali Utara Perketat Pengamanan Jumat Agung dan Paskah 2026
Warda menyebut bahwa pendekatan ini mampu mempercepat realisasi program berbasis kebutuhan masyarakat.
Menutup sambutannya, Warda Mamala mengatakan bahwa Haul ke-58 Guru Tua juga menjadi simbol persatuan masyarakat Morut.
Kegiatan ini mengingatkan pentingnya menjaga daerah melalui doa dan kebersamaan.
"Para pemimpin daerah berharap doa para ulama dan habaib mampu membawa keberkahan, keselamatan, dan kemajuan bagi Morowali Utara," sebut Warda sembari menyampaikan permohonan maaf atas segala kekurangan selama pelaksanaan acara ini.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin