RADAR PALU – Program Gerakan Pangan Murah kembali digelar pemerintah dalam momentum HUT ke-24 Kabupaten Parigi Moutong. Di satu sisi, kegiatan ini disambut antusias warga.
Namun di sisi lain, kritik mulai menguat program ini dinilai berpotensi hanya menjadi solusi instan yang berulang tanpa menyentuh akar persoalan harga pangan.
Bertempat di Alun-Alun Parigi, Jumat (10/4/2026), kegiatan ini dihadiri langsung gubernur bersama bupati dan wakil bupati Parigi Moutong.
Baca Juga: Refleksi di Usia 62 Tahun Sulteng, Bunda Wiwik: Hadirkan Kebijakan yang Pro Perempuan
Kehadiran para pejabat tersebut mempertegas bahwa program ini menjadi salah satu instrumen utama dalam menjaga stabilitas harga. Namun, efektivitasnya dalam jangka panjang masih dipertanyakan.
Sejumlah komoditas strategis seperti beras, minyak goreng, dan gula dijual di bawah harga pasar. Selisih harga yang cukup signifikan membuat warga berbondong-bondong datang sejak pagi.
Di sisi lain, kondisi ini memunculkan persoalan klasik: antrean panjang, pembelian dalam jumlah besar, hingga potensi distribusi yang tidak merata.
Baca Juga: Sinergi PKK dan Bunda PAUD Ditekankan, Pemkab Parimo Targetkan Generasi Emas
Secara kebijakan, intervensi melalui pasar murah memang diakui sebagai langkah cepat untuk meredam lonjakan inflasi.
Namun pendekatan ini dinilai belum menyentuh persoalan mendasar, seperti rantai distribusi yang panjang, ketergantungan pasokan dari luar daerah, hingga lemahnya perlindungan terhadap petani lokal.
Sejumlah pengamat menilai, jika pemerintah serius menjaga stabilitas harga, maka langkah yang ditempuh tidak cukup bersifat insidental.
Baca Juga: PPK–PPTK Proyek Perpustakaan Parimo Diperiksa Polisi
Diperlukan strategi yang lebih komprehensif, mulai dari penguatan produksi lokal, perbaikan sistem logistik pangan, hingga pengawasan harga di tingkat distributor.
Kehadiran kepala daerah dalam kegiatan ini memang memberi pesan keberpihakan kepada masyarakat. Namun tanpa kebijakan lanjutan yang konkret, program ini berisiko hanya menjadi agenda rutin tahunan yang ramai pada momentum tertentu—termasuk perayaan hari jadi daerah.
Di tengah tingginya antusiasme warga, publik kini menunggu langkah nyata pemerintah: apakah Gerakan Pangan Murah akan menjadi bagian dari strategi besar ketahanan pangan daerah, atau tetap berada pada pola lama sebagai “pemadam kebakaran” setiap kali harga mulai bergejolak. (***)
Editor : Muchsin Siradjudin