RADARPALU – Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BBPOM) di Palu mengungkapkan bahwa penyerahan antibiotik tanpa resep dokter di wilayah Sulawesi Tengah masih tergolong tinggi, meskipun mengalami penurunan pada tahun 2025.
Berdasarkan hasil pengawasan BPOM Palu, angka penyerahan antibiotik tanpa resep dokter tercatat sebesar 94,12 persen pada 2024, dan menurun menjadi 87,67 persen pada 2025.
Meski terjadi penurunan, angka tersebut dinilai masih mengkhawatirkan karena berpotensi memicu resistansi antimikroba (AMR).
Baca Juga: Palu hingga Banggai Waspada, BMKG Prediksi Hujan Lebat 2–4 April
BBPOM Palu mencatat beberapa jenis antibiotik yang paling sering diserahkan tanpa resep dokter, di antaranya Amoxicillin, Ampicillin, dan Cefadroxil.
“Penggunaan antibiotik yang tidak tepat, seperti tanpa resep dokter, dosis yang tidak sesuai, atau tidak dihabiskan, dapat memicu resistansi antimikroba. Kondisi ini menyebabkan antibiotik menjadi tidak efektif dalam mengobati infeksi,” demikian keterangan resmi BPOM Palu.
Resistansi antimikroba sendiri merupakan kondisi ketika mikroorganisme seperti bakteri, virus, jamur, dan parasit mengalami perubahan sehingga tidak lagi merespons obat.
Baca Juga: Anwar Hafid: Haul Guru Tua Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Bukti Cinta
Dampaknya, infeksi menjadi lebih sulit diobati, meningkatkan risiko komplikasi, memperpanjang masa pengobatan, hingga meningkatkan biaya kesehatan.
Untuk menekan risiko tersebut, BBPOM Palu mengajak masyarakat menerapkan prinsip 4T dalam penggunaan antibiotik. Pertama, tidak membeli antibiotik tanpa resep dokter. Kedua, tetap melanjutkan pengobatan sesuai resep meski kondisi sudah membaik.
Ketiga, tidak membuang antibiotik secara sembarangan. Keempat, menegur dan melaporkan jika menemukan praktik penjualan antibiotik tanpa resep.
BBPOM Palu juga membuka akses pengaduan masyarakat melalui berbagai kanal, termasuk media sosial dan layanan telepon, sebagai upaya memperkuat pengawasan partisipatif.
Melalui edukasi ini, diharapkan kesadaran masyarakat meningkat sehingga penggunaan antibiotik menjadi lebih bijak dan risiko resistansi antimikroba dapat ditekan.(*)
Editor : Mugni Supardi