RADAR PALU – Zona musim di Sulawesi Tengah didominasi oleh tipe ekuatorial yang mencakup sebagian besar wilayah provinsi tersebut.
Hal ini dipengaruhi oleh kondisi geografis Sulawesi Tengah yang beragam, mulai dari pegunungan, lembah hingga wilayah pesisir, serta posisinya yang berada di sekitar garis khatulistiwa.
Berdasarkan analisis Stasiun Pemantau Atmosfer Global (GAW) Lore Lindu Bariri Sulawesi Tengah, terdapat 29 Zona Musim (ZOM) yang terbagi dalam dua tipe pola hujan utama, yaitu ekuatorial dan lokal.
Secara umum, zona musim tipe ekuatorial mendominasi Sulawesi Tengah dengan 19 ZOM atau sekitar 66 persen wilayah, sedangkan 10 ZOM atau sekitar 34 persen wilayah lainnya bertipe lokal.
Pada tipe ekuatorial, wilayah Sulawesi Tengah terbagi dalam beberapa kategori.
Untuk Ekuatorial-1, terdapat 1 ZOM atau sekitar 4 persen wilayah yang berada di bagian selatan wilayah Sigi dan bagian barat daya wilayah Poso.
Selanjutnya Ekuatorial-2 mencakup 9 ZOM atau sekitar 31 persen wilayah, yang meliputi Tolitoli, Morowali, sebagian besar Buol, Poso, Morowali Utara, sebagian besar wilayah Donggala, sebagian kecil Sigi, Parigi Moutong, serta Tojo Unauna.
Sementara itu Ekuatorial-4 juga mencakup 9 ZOM atau sekitar 31 persen wilayah, yang meliputi sebagian besar wilayah Parigi Moutong, Tojo Unauna, dan Sigi, serta sebagian kecil wilayah Buol, Donggala, Morowali Utara, Banggai, dan Poso.
Adapun zona musim bertipe lokal juga terdapat di beberapa wilayah di Sulawesi Tengah.
Pada kategori Lokal-2, tercatat 7 ZOM atau sekitar 24 persen wilayah, meliputi Banggai, Banggai Kepulauan, Banggai Laut, serta sebagian kecil wilayah Tojo Unauna, Sigi, Morowali Utara, dan Poso.
Sementara Lokal-5 mencakup 3 ZOM atau sekitar 10 persen wilayah, yang meliputi Kota Palu serta sebagian kecil wilayah Sigi, Donggala, dan Parigi Moutong.
Perbedaan tipe zona musim tersebut menunjukkan bahwa karakteristik curah hujan di Sulawesi Tengah tidak seragam dan dipengaruhi oleh kondisi geografis serta dinamika atmosfer di wilayah tersebut.
Informasi mengenai zona musim ini menjadi salah satu dasar penting dalam pemantauan iklim serta perencanaan sektor pertanian, sumber daya air, dan mitigasi dampak cuaca ekstrem di Sulawesi Tengah.(*)
Editor : Mugni Supardi