RADAR PALU - Pemerintah Desa Duamayo, bersama masyarakat terpaksa melakukan swadaya bersama warga desa untuk membeli pasir timbunan, guna memperbaiki akses jalan utama desa yang menghubungkan desa tetangga yang saat ini mengalami kerusakan sangat parah.
Akses jalan desa yang merupakan urat nadi petani dan masyarakat untuk bepergian saat ini sulit dilalui karena rusak berat, apalagi saat musim hujan becek dan licin serta berlubang-lubang seperti kubangan kerbau.
Kepala Desa (Kades) Duamayo, Barto Layuk, mengatakan bahwa inisiatif untuk menimbun jalan secara swadaya menggunakan uang yang dikumpul warga untuk membeli pasir timbunan agar jalan bisa dilalui kendaraan untuk mengangkut hasil panen petani di desa, untuk dijual ke pasar.
"Sudah puluhan tahun Desa Duamayo terkesan dianaktirikan Pemerintah Kabupaten Buol, setiap tahun usulan masyarakat baik secara langsung maupun lewat Musrenbang kurang mendapat perhatian serius," kata Kades Barto, dengan nada kekecewaan.
Desa Duamayo merupakan penyumbang Pendapatan Asli Daerah (PAD), melalui hasil pertanian dan Perkebunan. Namun ironisnya, jalan desa yang merupakan infrastruktur vital tidak mendapat perhatian yang layak dari pemerintah kabupaten.
Masyarakat desa kini merasa, bahwa mereka telah diabaikan dan tidak dipedulikan oleh pemerintah lagi.
Sementara itu, Kepala Bidang (Kabid) Bina Marga Dinas PUPR Kabupaten Buol, Ahmad Yani, menjelaskan bahwa ruas jalan Bongo-Modo yang melewati Desa Duamayo sudah diusulkan ke pusat, sebab pekerjaan jalan ini butuh biaya besar, sementara kondisi keuangan daerah belum mampu menangani pekerjaan jalan tersebut.
"Kita berharap semoga tahun ini ada anggaran APBN untuk pekerjaan jalan desa tersebut," kata Ahmad Yani.
Masyarakat Desa Duamayo terus berharap, agar Pemerintah Kabupaten Buol dan Dinas PUPR agar lebih peka dan peduli dengan kondisi jalan desa yang rusak parah ini.
Mereka tidak ingin terus-menerus hidup dalam kesulitan dan keterbelakangan, karena infrastruktur yang buruk.
Swadaya masyarakat Desa Duamayo ini merupakan contoh nyata betapa kuatnya persatuan untuk membangun, diwijudkan kepedulian masyarakat desa yang tinggi terhadap kemajuan desa mereka sendiri.
Sekaligus menjadi sebuah kritik pedas dan tamparan keras, terhadap Pemerintah Kabupaten yang tidak bisa berbuat apa-apa. Seolah-olah tidak peduli dengan kebutuhan dasar masyarakat desa.(***)
Editor : Muchsin Siradjudin