RADAR PALU – Status Kabupaten Parigi Moutong (Parimo) sebagai salah satu lumbung pangan utama di Provinsi Sulawesi Tengah mulai dipertanyakan setelah sejumlah wilayah sentra pertanian di daerah tersebut sempat dilanda kekeringan.
Kekeringan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir menyebabkan penurunan debit air irigasi dan sumber air di sejumlah titik. Kondisi itu berdampak pada aktivitas pertanian, bahkan membuat sebagian petani mengalami keterlambatan musim tanam.
Direktur Pestisida Kementerian Pertanian RI, Nelson Metubun, mengatakan kondisi kekeringan di Parimo saat ini mulai berangsur membaik.
Saat dihubungi melalui sambungan WhatsApp, Nelson yang berada di Jakarta menyampaikan bahwa persoalan air di beberapa wilayah perlahan mulai teratasi, Kamis (5/3/2026).
“Masalah kekeringan yang sempat terjadi sudah mulai teratasi. Namun kondisi seperti ini tetap harus diwaspadai agar tidak mengganggu produksi pangan,” ujarnya.
Menurut Nelson, Parigi Moutong memiliki potensi lahan pertanian yang luas dan selama ini menjadi salah satu kontributor utama produksi padi di Sulawesi Tengah. Karena itu, kesiapan infrastruktur air dan sistem irigasi perlu terus diperkuat.
Meski demikian, keluhan masih datang dari petani di lapangan. Salah satunya disampaikan Waluyo (52), petani di Desa Pelawa Induk, Kecamatan Parigi Tengah, Jumat (6/3/2026).
Ia mengaku pasokan air ke lahan sawah dan ladangnya hingga kini belum sepenuhnya normal setelah kekeringan melanda wilayah tersebut.
“Air memang sudah mulai ada, tapi belum lancar seperti dulu. Kadang mengalir, kadang juga tidak. Kami masih kesulitan mengatur waktu tanam,” keluhnya.
Menurutnya, jika persoalan air tidak segera ditangani, kondisi tersebut dikhawatirkan akan berdampak pada produktivitas pertanian di daerah tersebut.
Situasi ini memunculkan kekhawatiran di kalangan petani mengenai kemampuan Parigi Moutong mempertahankan statusnya sebagai lumbung pangan Sulawesi Tengah, terutama jika persoalan kekeringan kembali terulang di masa mendatang.(Cr5)
Editor : Muchsin Siradjudin