RADAR PALU - Kawasan industri di Bahodopi tak hanya sibuk dengan aktivitas produksi. Dalam tiga hari terakhir, edukasi soal sampah justru menyasar sekolah dan pesisir.
Momentum Hari Peduli Sampah Nasional (HPSN) 2026 dimanfaatkan manajemen PT Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) untuk menguatkan kampanye pengelolaan sampah berbasis 3R di sekitar kawasan.
Head of Environmental Department IMIP, Yundi Sobur, mengatakan kegiatan tahun ini lebih banyak digelar di luar kawasan industri. Sasarannya siswa sekolah dan masyarakat pesisir.
Edukasi dilakukan di SD Dampala, SD Lalampu, dan SMPN 2 Bahodopi. Selain itu, pengelolaan sampah berkelanjutan juga digelar di Pulau Langala dengan melibatkan berbagai pihak.
Di pulau tersebut, IMIP menggandeng Dinas Lingkungan Hidup Morowali, Dinas Pariwisata, KSM Ara Sinergi Berdaya, Pemerintah Desa Fatufia, hingga pengelola wisata setempat.
“Kolaborasi multi pihak penting karena setiap unsur punya tanggung jawab yang saling melengkapi,” ujar Yundi, Sabtu (21/2/2026).
Total ada 311 peserta yang terlibat selama 13–15 Februari 2026. Rinciannya, 35 murid kelas VI SD Dampala, 64 murid SD Lalampu, 42 siswa SMPN 2 Bahodopi, serta 170 peserta kegiatan di Pulau Langala.
Bagi kawasan industri sebesar IMIP, pengelolaan sampah bukan sekadar agenda seremonial. Tantangannya ada pada konsistensi pemilahan dan optimalisasi fasilitas.
Di dalam kawasan, setiap tenant diwajibkan menyediakan minimal lima jenis tempat sampah terpilah, memiliki tempat pembuangan sementara, serta menyusun SOP pengelolaan dari sumber hingga akhir.
IMIP juga mengklaim telah menyebar 2.500 poster kampanye pemilahan sampah ke 52 perusahaan dalam kawasan sebagai penguatan budaya disiplin.
Sejumlah program sudah dijalankan, mulai dari pengolahan sampah organik menjadi kompos dan eco enzim, budidaya maggot, hingga sistem bioflok. Untuk sampah anorganik bernilai ekonomis, pemberdayaan dilakukan melalui KSM Bahomakmur.
Yundi mengakui, penguatan budaya memilah sampah masih menjadi pekerjaan rumah. Ke depan, manajemen berkomitmen menambah fasilitas dan edukasi berkelanjutan agar sistem berjalan lebih terintegrasi.
“Harapannya, sampah tidak lagi dipandang sebagai limbah semata, tapi bisa dimanfaatkan dan memberi nilai tambah,” katanya.***
Editor : Muhammad Awaludin