RADAR PALU - Sepekan sebelum Ramadan, suasana sejumlah pemakaman di Sulawesi Tengah mulai ramai. Warga datang membawa air, sapu lidi, dan doa yang dipanjatkan pelan di atas pusara keluarga.
Di rumah-rumah warga, tradisi baca arua juga kembali digelar. Doa arwah dipimpin tokoh agama, diamini bersama, menjadi bagian dari persiapan batin menyambut bulan puasa.
Tradisi ziarah kubur hampir selalu menguat menjelang Ramadan. Warga membersihkan makam orang tua dan kerabat, mencabut rumput liar, lalu menyiram kubur sebelum membaca doa.
Dalam ajaran Islam, ziarah kubur memang dianjurkan sebagai pengingat kematian. Rasulullah SAW bersabda, “Berziarahlah kalian ke kubur, karena itu mengingatkan kalian pada akhirat” (HR Muslim).
Selain di pemakaman, masyarakat suku Kaili mengenal tradisi baca arua, yakni pembacaan doa arwah yang biasanya dilakukan di rumah keluarga. Imam atau ustaz memimpin pembacaan Surah Al-Fatihah, Yasin, tahlil, serta doa khusus yang dihadiahkan kepada keluarga yang telah wafat.
Seluruh keluarga duduk melingkar, mengamini setiap doa. Suasananya tenang, sederhana, tanpa seremoni berlebihan.
Doa untuk orang yang telah meninggal juga memiliki landasan dalam Al-Qur’an. Dalam Surah Al-Hasyr ayat 10, Allah SWT memuji orang-orang yang berdoa memohon ampunan bagi saudara mereka yang telah lebih dahulu beriman.
Hadis riwayat Muslim juga menyebut, ketika seseorang meninggal dunia, amalnya terputus kecuali tiga hal, salah satunya doa anak saleh.
Di Palu, Sigi, Donggala hingga Parigi Moutong, tradisi ini menjadi agenda tahunan yang nyaris tak terlewat. Bagi sebagian warga, baca arua bukan sekadar ritual, tetapi momen berkumpul keluarga besar sebelum memasuki Ramadan.
Ada ruang untuk saling memaafkan. Ada jeda untuk mengingat mereka yang sudah lebih dulu pergi.***
Editor : Muhammad Awaludin