RADAR PALU - Kontribusi ekspor Sulawesi Tengah masih didominasi kawasan industri. Namun, Dinas Perindustrian dan Perdagangan Sulawesi Tengah mulai memperluas basis eksportir dengan mengarahkan UKM kelapa dan kopi masuk pasar nasional dan internasional.
Kepala Bidang Perdagangan Luar Negeri Disperindag Sulawesi Tengah, Margie Lestari, mengakui bahwa secara pencatatan nilai, kontribusi kawasan industri masih jauh lebih besar dibandingkan UKM.
“Yang membuat pencatatan ekspor tinggi itu tetap kawasan industri,” kata Margie Lestari.
Ia menjelaskan, secara kuantitas komoditas kelapa dari Sulawesi Tengah tergolong besar, namun secara nilai masih kalah dibandingkan produk besi baja.
Saat ini, ekspor kelapa masih didominasi pengiriman ke Tiongkok melalui perusahaan pengumpul yang menyalurkan produk dari berbagai daerah sebelum diekspor.
Sementara itu, dalam dua tahun terakhir Disperindag juga aktif mendorong pengembangan kopi Sulawesi Tengah agar mampu menembus pasar nasional dan internasional.
Upaya tersebut dilakukan melalui pelaksanaan festival kopi bekerja sama dengan Bank Indonesia serta penilaian kualitas kopi.
“Hasil penilaian kopi dari daerah seperti Poso, Tolitoli, Sigi, dan Donggala menunjukkan nilainya masih standar nasional dan cukup menarik untuk pasar nasional maupun internasional,” ujarnya.
Selain promosi, Disperindag juga memberikan edukasi melalui klinik ekspor kepada para pelaku usaha, termasuk pengenalan pemasaran melalui marketplace sebagai tahapan awal memperluas pasar.
Ke depan, Disperindag Sulawesi Tengah menargetkan peningkatan kapasitas pelaku usaha agar mampu memenuhi permintaan ekspor dalam skala lebih besar pada 2027 hingga 2028, dengan tetap mempertimbangkan kendala sektor pertanian seperti cuaca.
Untuk tahun 2026, Disperindag optimistis ekspor akan terus meningkat seiring bertambahnya jumlah pelaku usaha dan kemudahan layanan pemerintah daerah, khususnya dalam pengurusan perizinan dan fasilitasi ekspor.(rna)
Editor : Mugni Supardi