RADAR PALU - Di sebagian desa di Sulawesi Tengah, listrik belum bisa diandalkan setiap hari. Sebanyak 83 desa masih belum berlistrik penuh, membuat waktu, biaya, dan akses layanan warga ikut tersendat. Kini, arah solusi mulai dipetakan—dari penguatan jaringan hingga tenaga surya.
Kenapa ini penting sekarang? Karena listrik menentukan apakah desa bisa bergerak cepat atau terus tertahan.
Pembahasan kondisi kelistrikan Sulawesi Tengah dilakukan di Palu, bersama Gubernur Sulteng Anwar Hafid, Rabu (21/1/2025). Fokusnya pada percepatan elektrifikasi desa dan peningkatan keandalan sistem yang selama ini terkendala panjang jaringan distribusi serta medan geografis.
Wilayah yang jadi perhatian utama mencakup Morowali, Morowali Utara, Lembo, hingga daerah kepulauan seperti Banggai Laut dan Banggai Kepulauan. Untuk Lembo, pasokan listrik saat ini masih dibackup dari sistem Palu II dan Palu III sambil menunggu penguatan transmisi.
Skalanya tidak kecil. Dari 89 desa yang sebelumnya belum berlistrik, kini tersisa 83 desa. Angka ini turun, namun tantangan belum selesai—terutama untuk dusun-dusun terpencil yang jauh dari jaringan utama.
Gangguan listrik yang dirasakan warga bukan pemadaman terencana. Panjang jalur distribusi membuat waktu pemulihan lebih lama saat gangguan terjadi. Rencana pembangkitan tersebar ditujukan untuk memperpendek jalur ini.
Tanpa listrik stabil, warga mengandalkan genset atau sumber alternatif yang mahal. Masuknya jaringan atau PLTS berpotensi menekan biaya harian, terutama bagi usaha kecil di desa.
Listrik membuka pintu ke layanan lain. Program elektrifikasi diarahkan selaras dengan internet desa, agar sekolah, layanan kesehatan, dan administrasi tidak lagi terputus.
Angka yang perlu dicatat: sekitar 20 persen gangguan masih dipengaruhi panjang jaringan dan faktor alam. Inilah yang coba ditekan lewat proyek jaringan 2025–2026.
“Gangguan yang terjadi belakangan ini bukan pemadaman terencana, melainkan gangguan jaringan. Sekitar 20 persen masih dipengaruhi oleh panjangnya jalur distribusi dan faktor alam,” kata Manager PLN UP3 Palu, Ansar, kepada Gubernur Sulteng, Anwar Hafid saat audiens di ruang kerja gubernur
Untuk wilayah kepulauan dan daerah terisolasi, solusi sementara menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS). Namun PLTS membutuhkan perawatan dan pengelolaan berkelanjutan. Tanpa itu, listrik berisiko kembali padam setelah proyek selesai.
Selain itu, ketergantungan pada sistem backup—seperti di Lembo—menandakan keandalan belum sepenuhnya mandiri hingga transmisi utama benar-benar kuat.
Target proyek jaringan dipasang hingga 2025–2026. Arah solusi sudah ada, angkanya jelas. Pertanyaannya tinggal satu: seberapa cepat 83 desa ini benar-benar bisa menikmati listrik tanpa jeda?***
Editor : Muhammad Awaludin