RADAR PALU – Aktivitas melaut di sejumlah perairan Sulawesi Tengah diprediksi menghadapi risiko serius dalam beberapa hari ke depan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengingatkan potensi gelombang laut sedang hingga tinggi yang dapat membahayakan nelayan, khususnya pengguna perahu kecil.
Prakirawan Cuaca BMKG Stasiun Meteorologi Kelas II Mutiara Sis Al Jufri Palu, Lilik Ardiyanto, menjelaskan bahwa kondisi gelombang di wilayah Teluk Palu saat ini berada pada kategori sedang dengan ketinggian sekitar 1,25 hingga 2,5 meter.
Meski demikian, kata Lilik, tinggi gelombang berpotensi meningkat signifikan ketika memasuki perairan terbuka di luar Teluk Palu.
“Teluk Palu relatif lebih tertutup sehingga gelombangnya tidak setinggi perairan terbuka. Namun jika nelayan keluar dari teluk, potensi gelombang akan lebih tinggi,” ujarnya, Jumat (16/1/2026).
BMKG memprakirakan dalam dua hingga tiga hari ke depan, gelombang laut di sejumlah wilayah perairan Sulawesi Tengah dapat meningkat, bahkan mencapai kategori tinggi. Puncak potensi gelombang diprediksi terjadi pada 19 Januari mendatang.
Untuk wilayah barat Sulawesi Tengah, meliputi Teluk Palu, Donggala, Toli-Toli, hingga Buol, gelombang laut diperkirakan berada pada kategori sedang dengan ketinggian 1,25 hingga 2,5 meter.
Sementara itu, wilayah perairan yang menghadap langsung ke Teluk Tomini seperti Parigi Moutong, Poso, Tojo Una-Una, dan Banggai, diminta meningkatkan kewaspadaan karena potensi gelombang berada pada kategori sedang hingga tinggi, yakni berkisar antara 2,5 hingga 4 meter.
Menurut Lilik, kondisi tersebut sangat berisiko bagi nelayan tradisional yang menggunakan perahu berukuran kecil.
“Gelombang di atas 1,5 meter saja sudah sangat berdampak, apalagi bagi nelayan tangkap dengan perahu kecil. Ini yang harus benar-benar diwaspadai,” jelasnya.
Ia menambahkan, meningkatnya tinggi gelombang dipengaruhi oleh musim angin Asia yang berlangsung pada Desember hingga Februari. Pada periode ini, angin bertiup cukup kuat dan konsisten dari arah yang sama sehingga memicu pembentukan gelombang permukaan laut yang lebih tinggi.
“Awal tahun memang menjadi periode rawan. Kami mengimbau nelayan dan masyarakat pesisir untuk terus memantau informasi cuaca dari BMKG dan tidak memaksakan aktivitas di laut jika kondisi tidak memungkinkan,” pungkas Lilik. *
Editor : Muhammad Awaludin