RADAR PALU – Lambannya progres proyek preservasi dan pelebaran Jalan Nasional ruas Tagolu–Tentena di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah, memicu keresahan.
Di tengah tingginya arus kendaraan menjelang Natal dan Tahun Baru (Nataru), kondisi badan jalan justru kian berisiko bagi pengendara, terutama roda dua.
Sejumlah titik galian yang belum ditimbun menjadi perangkap berbahaya. Radar Palu mencatat, sedikitnya lima pengendara motor mengalami kecelakaan tunggal usai terperosok ke dalam lubang galian proyek.
Baca Juga: Bupati Morut Minta BPJN Sulteng Percepat Perbaikan Jalan Rusak di Wilayah Tambang
“Sekitar lima pengendara motor jatuh karena masuk lubang yang belum ditutup,” ungkap seorang warga kepada Radar Palu, Jawa Pos Group, Jumat (26/12). “Banyak yang tidak sadar ada galian, terutama di malam hari. Lampu penerangan minim, rambu pun hampir tidak ada.”
Kepala Balai Pelaksanaan Jalan Nasional (BPJN) Sulawesi Tengah Bambang S. Razak, S.T., M.T., membenarkan insiden kecelakaan tersebut. Saat dihubungi melalui telepon dan pesan singkat, ia menegaskan pihaknya telah menindaklanjuti laporan warga.
“Saya menerima laporan dan foto korban. Pelaksana pekerjaan juga sudah menemui para korban,” kata Bambang.
“Saya sudah minta mereka segera menyelesaikan penutupan lubang yang membahayakan pengendara. Kontraktor diberi waktu tiga hari.”
Baca Juga: Warga dan DPRD Desak Perbaikan Jalan Bungintimbe, Ingatkan Kondisi Jalan Rusak Akan Menimbulkan Konflik
Proyek Rp101 Miliar, Alat Berat Menganggur
Pantauan Radar Palu di kawasan Pandiri memperlihatkan aktivitas proyek praktis jalan di tempat. Dua alat berat tertutup terpal, sementara satu grader dan satu compactor terparkir sunyi di bahu jalan. Tidak terlihat pekerjaan konstruksi aktif di sepanjang jalur pengamatan.
Padahal, ruas Tagolu–Tentena adalah jalur strategis Trans Sulawesi yang menghubungkan Poso–Tentena–Makassar dan berbagai daerah lain di Sulawesi Tengah. Mobilitas tinggi, tapi keselamatan terabaikan.
“Progress lambat karena pekerjaan utama baru dimulai tahun 2026. Tahun ini fokus patching dan pemeliharaan rutin,” jelas Bambang. Ia menambahkan, proyek ini merupakan Multi Years Contract (MYC) hingga 31 Desember 2026.
Baca Juga: Bupati Morut Minta BPJN Sulteng Percepat Perbaikan Jalan Rusak di Wilayah Tambang
Selain lubang yang menganga, minimnya rambu peringatan dan pembatas galian membuat potensi kecelakaan kian besar. Terutama pada malam hari, ketika pengendara kesulitan melihat kontur jalan yang tidak rata.
“Rambu keselamatan dan K3 masih sangat terbatas. Harus ditambah segera,” tegas Bambang.
BPJN memastikan telah menginstruksikan PPK untuk memaksimalkan penutupan lubang dan pemasangan rambu di titik-titik rawan.
Warga meminta proyek segera dipercepat, sebelum memakan korban jiwa.
“Kami tidak minta muluk, cuma keselamatan. Jangan tunggu ada yang meninggal dulu baru bertindak,” ujar seorang pengendara yang ditemui Radar Palu.(*)