RADAR PALU - Tim Ekspedisi Patriot Kementrian Transmigrasi Basidondo sukses menyelenggarakan acara Forum Group Discussion (FGD), bertempat di aula Rumah Jabatan (Rujab) Bupati di Kelurahan Tuweley, Kabupaten Tolitoli, beberapa waktu lalu.
FGD lintas Sektor ini mengangkat tema "Pengembangan Kawasan Transmigrasi Basidondo yang Berkelanjutan Berbasis Evaluasi Infrastruktur Dasar dan Desain Komoditas Unggulan" dibuka secara resmi oleh Asisten Pemerintahan dan Kesra, Mohamad Dzikron, SH., M.Si.
Dihadiri oleh jajaran dinas Kabupaten Tolitoli, perwakilan akademisi setempat, serta Badan Penyuluh Pertanian (BPP) dari tiga kecamatan yaitu Kecamatan Basidondo, Lampasio, dan Ogodeide.
FGD ini digelar bertujuan memetakan isu dan merumuskan solusi strategis bagi pengembangan wilayah transmigrasi Basidondo dan sekitarnya.
Pantuan media, pada sesi pertama diisi oleh pemateri, Dr. Syarifuddin Ende, SP., MP, yang merupakan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Pertanian (STIP) Tolitoli.
Dalam sesi tersebut Dr. Syarifuddin Ende, memberikan pandangan strategis
yang relevan untuk mendorong sektor pertanian dan pembangunan daerah Tolitoli terkait rantai pasok dari hulu dan hilir hasil pertanian.
Selanjutnya, pada sesi kedua penyampaian pemaparan laporan akhir dari dua tim ekspedisi yang dimana Tim 1 berfokus pada evaluasi rekomendasi sarana, prasarana, dan infrastruktur serta tata ruang.
sedangkan Tim 2 berfokus pada identifikasi komoditas unggulan spesifik di kawasan transmigrasi Basidondo.
Hasil FGD infrastruktur dan batas wilayah tim 1 meringkas beberapa hasil FGD yang penting terkait pembangunan infrastruktur dan tata ruang diantaranya, pertama, pengelolaan Lingkungan. Meliputi pembangunan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA), dengan mempertimbangkan jarak aman dari permukiman untuk menjamin keberlanjutan lingkungan.
Kedua, konektivitas, perlunya pembangunan jalan dan jembatan untuk menciptakan sistem konektivitas terpadu lintas sektor. Ketiga, tapal batas, permasalahan krusial terkait tapal batas antara Kecamatan Lampasio dan Ogodeide, serta antara Desa Kamalu dan Pagaitan.
Sedangkan untuk hasil tim 2, lebih di fokuskan pada komoditas unggulan yang menyoroti masalah fundamental dalam sektor pertanian dan perkebunan diantaranya, pertama, produktivitas kakao rendah, produktivitas kakao Tolitoli masih sangat rendah, hanya sekitar 700 kg per hektare, jauh dari standar ideal 2 ton per hektare. Kedua, hama dan peremajaan, sekitar 50 persen tanaman rusak akibat hama penyakit. Upaya peremajaan terhambat karena keterbatasan dana.
Ketiga, hilirisasi dan harga jual. Masalah harga jual komoditas, dan kurangnya minat petani pada pengolahan nilai tambah seperti fermentasi kakao atau produksi VCO dari kelapa. Keempat, pelatihan dan subsidi. Kurangnya pelatihan untuk menunjang hasil panen dan isu pupuk non-subsidi pada komoditas tertentu.
Kelima, kebutuhan alat, masih tingginya permintaan untuk pengadaan alat pengolahan. Keenam, disparitas pembangunan. Pemasaran hasil pertanian yang kurang maksimal, dikarenakan infrastruktur belum memadai.
Berita acara hasil FGD yang sudah ditandatangani oleh perwakilan pemerintah, perwakilan akademisi, perwakilan masyarakat dan perwakilan tim Ekspedisi Patriot dapat menjadi landasan kuat bagi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tolitoli dalam merumuskan kebijakan yang lebih terarah dan berdampak dalam upaya pembangunan yang terpadu dan berkelanjutan.(mch)
Editor : Muchsin Siradjudin