RADAR PALU - Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika Kelas I Palu Sujabar, S.T. mengakui megathrust yang berada dibagian Utara dari Kabupaten Tolitoli dan Buol dapat memicu gempa bumi dengan magnitudo 8,5 yang dapat memicu gelombang tsunami.
"Artinya ini prediksi dari perhitungan panjangnya subduksi tersebut dengan kira-kira pergerakan subduksinya itu menimbulkan gempa yang potensinya 8,5 skala richter. Jadi ini bukan isu hoax, tapi ini satu penelitian dari perhitungan dari alih-alih gempa, kira-kira begitu," kata Sujabar saat menyampaikan materi Potensi Gempa Bumi dan Tsunami di Sekolah Lapang Gempa Bumi dan Tsunami di Kota Palu, beberapa waktu lalu.
Lanjut Sujabar, selain potensi megathrust di Utara Tolitoli dan Buol, sesar-sesar lain di Sulawesi Tengah juga menjadi perhatian utama karena berpotensi memicu gempa dan tsunami.
"Seperti tahun 1938 di Parigi Moutong, tahun 1968 di Tambu Kabupaten Donggala. Terus di Teluk Palu sendiri yang tahun 2018, yang dipicu oleh gempa M7,5 di Donggala, ini menjadi pelajaran berharga," sebut Sujabar.
Menurut Sujabar, gempa pada 2018 dengan M7,5 tersebut memicu pergeseran tiga segmen sesar sekaligus, yaitu segmen Selat Makassar, segmen Palu-Koro, dan segmen Saluki. Sesar Palu Koro sendiri memiliki lima segmen, dua segmen yang tidak mengeluarkan energi pada 2018 yaitu segmen Moa dan Matano.
"Jika lima segmen sesar ini lepas bersamaan, potensi gempa bisa mencapai M7.8 hingga M8. Jangan anggap perbedaan dari 7.5 ke 7.8 itu kecil. Dampaknya bisa berkali-kali lipat lebih besar," terangnya.
Baca Juga: Menag Lantik Pengurus IPIM Sulteng, ASN Diminta Profesional, Saling Menguatkan
Dia menjelaskan, gambaran kerusakan yang ditimbulkan dari gempa bumi M7.5
sudah terlihat pada 2018 silam, maka jangan dipikirkan jika gempa bumi M7.8 hanya naik tiga level saja.
"Artinya kalau magnitudonya misalnya 7,8 atau M8, berarti magnitudonya yang dulu 7,5 itu dikalikan, dikalikan, dilock, berapa kali sampai M8 itu tadi," jelasnya.(acm)