Berita Pilihan Daerah Ekonomi Internasional Kota Palu Nasional Olahraga Opini Pendidikan Politika Selebriti Sulteng Wisata

Tribute to Guardian Sky-Anthonius Gunawan Agung: Surat Kontrak di Dunia Penerbangan yang Dituntut adalah Nyawamu Demi Orang Lain

Mugni Supardi • Jumat, 3 Oktober 2025 | 21:55 WIB
KENANG PAHLAWAN ATC : Kapten Ricoseta Mafella membagi pengalamannya di acara Tribute to Guardian Sky - Anthonius Gunawan Agung, Senin (29/9/2025) lalu, di Kantor Airnav Cabang Pembantu Palu.
KENANG PAHLAWAN ATC : Kapten Ricoseta Mafella membagi pengalamannya di acara Tribute to Guardian Sky - Anthonius Gunawan Agung, Senin (29/9/2025) lalu, di Kantor Airnav Cabang Pembantu Palu.

Keputusannya membuat pemerintah dan komunitas penerbangan menetapkan 29 September sebagai Hari Bakti ATC Indonesia untuk mengenang integritas dan profesionalisme seorang pemandu lalu lintas udara. Dalam acara peringatan, dilakukan peletakan bunga dan penyalaan lilin secara simbolis, dilanjutkan dengan kisah inspiratif yang dibawakan Kapten Ricoseta Mafella.

LAPORAN : MUGNI SUPARDI

“MUTIARA Tower Batik 6321, Mutiara Tower Batik 6321, enggak ada yang jawab, demikian yang saya panggil saat itu sampai di ketinggian hampir di 10 ribu kaki, beliau (Anthonius Gunawan Agung, red,) enggak jawab. Di ketinggian 5 ribu kaki juga kami sempat belok tanpa izin dari dia,” kenang Pilot Batik Air 6231, Kapten Ricoseta Mafella saat membagikan kisah tujuh tahun silam itu di acara Tribute to Guardian Sky-Anthonius Gunawan Agung, Senin (29/9/2025) lalu, di Kantor Airnav Cabang Pembantu Palu. Kegiatan yang dimulai pukul 18.35 WITA itu juga dihadiri Direktur Operasi Perum LPPNPI Setyo Anggoro dan Ketua Umum IATCA Suwandi.

Pesawat Batik Air (BTK6231) menjadi penerbangan terakhir yang lepas landas dari Palu menuju Makassar sebelum gempa 7,4 SR mengguncang pada 28 September 2018.

Anthonius Gunawan Agung dikenang karena tetap memberikan panduan terakhir berupa intruksi ‘clear for take-off (diizinkan lepas landas)’ kepada BTK6231, meski ia memiliki kesempatan menyelamatkan diri. “Dia menunggu saya sampai benar-benar saya pergi,” lanjut Kapten Mafella sapaan akrabnya.

Clear for takeoff adalah istilah yang digunakan dalam penerbangan ketika Pengendalila Lalu Lintas Udara (ATC) memberikan izin kepada pesawat untuk berangkat dari darat berdasarkan kondisi lalu lintas dan bandara yang diketahui.

“Pesan terakhir yang dia sampaikan, dia bilang pada saat kami mulai berputar untuk proses percepatan, saya bilang minta izin Batik6321 ready for depacture (siap untuk keberangkatan, red), jawaban terakhir dia bilang Batik 6321 wind (angin, red) sekian-sekian ready clear for take off (siap untuk lepas landas, red) dan tidak pernah dengar lagi,” cerita Kapten Mafella mengulang percakapan terakhir bersama Anthonius Gunawan Agung.

Karena tidak ada jawaban, Kapten Mafella berkata kepada Co-pilot mungkin saja Anthonius Gunawan Agung salat magrib. “Saya enggak tahu rupanya dia Katolik,” singkatnya.

Akhirnya Kapten Mafella memutuskan untuk pindah ke pengatur udara di Makassar. “Saya bilang Palu enggak respon saya panggil, saya minta izin climbing (mendaki, red) sampai di ketinggian sekian, terus dikasih (izin, red),” sebutnya.

Pihak ATC Makassar juga tidak memberikan informasi ke pesawat Batik Air 6321 jika sesuatu terjadi. “Sampai di Makassar saya dikasih tahu, Capt. alhamdulillah, Capt. selamat. Saya kaget,” akuinya.

Kapten Mafella langsung menanyakan apa yang sebenarnya terjadi ke pihak ATC Makassar. “Palu sudah hancur Capt. ada gempa dahsyat, ada tsunami, ada tanah longsor (likuifaksi, red),” jawaban ATC Makassar saat itu ke Kapten Mafella.

 

Waktu yang tercatat saat gempa Palu didapatkan Kapten Mafella adalah pukul 18.02 WITA dengan detik ke 44. Saat itu dia langsung mencocokkan dengan waktu take-off Batik 6321 ke Co-pilot, rupanya sama dengan gempa Palu yakni pukul 18.02 WITA.

“Tapi saya dapat detiknya itu sebulan kemudian, ternyata detiknya saya take-off itu detik ke 40, jadi 18.02 detik 40,” terangnya.

Proses pencatatan waktu dijelaskan Kapten Mafella dari saat roda pesawat mulai naik atau mengangkat. Pesawat itu kata dia kalau ingin take-off butuh 3 derajat per detik dan sudut 10 sampai 12 derajat baru pesawat akan mengangkat.

“Jadi prosedurnya ditarik tiga derajat per detik, untuk capai 12 derajat kira-kira butuh berapa, jawabannya 4 detik. Makanya di detik terakhir atau detik ke 44 saya rasakan impact (dampak, red) 7,4 SR di roda belakang, setelah itu saya enggak tahu apa yang terjadi, saya cuman rasakan dakk (suara dentuman, red),” cerita Kapten Mafella.

Kapten Mafella juga mengakui baik data BMKG maupun pesawat semua dimilikinya. Hal itu untuk mengisahkan tentang Anthonius Gunawan Agung dan kesaksian di Palu hingga keliling dunia, salah satunya di Amerika. “Saya beritakan tentang beliau yang luar biasa,” tuturnya.

Dedikasi Anthonius Gunawan Agung yang tidak meninggalkan stasiun ATC sebut Kapten Mafella karena dalam proses perjalanan pesawat ini, hanya beliau satu-satunya yang bisa diajak komunikasi kalau misalnya dirinya ingin membatalkan penerbangan.

Dalam penelusuran dan investigasinya, Kapten Mafella mendapatkan sebuah fakta bahwa Anthonius Gunawan Agung saat itu menggantikan posisi dari rekan kerjanya yakni Mbak Retno. Mbak Retno juga lah yang memanggil Anthonius Gunawan Agung untuk segera menyelamatkan diri karena ada gempa.

“Mbak Retno yang manggil Mas Agung. Katanya gini, Mas Agung gempa?. Nih jawaban Mas Agung, iya Mbak Batik Air masih rolling. Secara nalar dipikir dia tinggalkan stasiun bisa saja, tetapi dia punya integritas yang sangat luar biasa,” sanjung Kapten Mafella.

Dimata Kapten Mafella, Anthonius Gunawan Agung adalah sahabat yang dikenal dalam waktu yang paling singkat, tetapi rasanya sudah mengenal puluhan tahun.

“Kenapa saya bilang sahabat, momen-momen di Instagram, Facebook, netizen bilang Capt. sahabatnya tuh, hari ini Palu. Jadi yang ingatkan Palu 28 September selalu masyarakat Indonesia. Saya waktu itu secara spontan di TV, di instagram saya tulis the is my guardian angel,” ungkapnya.

Saksi mata di Bandara Mutiara Palu juga tak luput dari segala pertanyaan Kapten Mafella. Beberapa petugas bandara mengakui bahwa saat pesawat Batik Air baru take-off sebentar, posisi di Bandara sudah diguncang gempa. Itu membuat petugas lari dan jongkok di parkiran pesawat.

Sebelumnya, Kapten Mafella mempopulerkan Anthonius Gunawan Agung melompat dari tower ATC, akan tetapi ada yang lebih heroik lagi ketika dirinya sudah bertemu dengan Kepala Bandara Mutiara Palu saat itu.

“Berdasarkan CCTV rupanya ketika Batik Air 6321 lepas landas, tower diguncang gempa, dan Anthonius Gunawan Agung tidak meloncat, akan tetapi beliau ketiban reruntuhan tower dan terlempar. Jadinya tidak siap untuk jatuh,” terang Kapten Mafella.

Sebagai bentuk penghormatan, Menteri Perhubungan saat itu, Budi Karya Sumadi memberikan penghormatan kepada Almarhum Anthonius Gunawan Agung, dengan memakamkan Almarhum di Taman Makam Pahlawan (TMP) Panaikang Makassar.

Selain itu, Pemerintah juga memberikan Tanda Penghargaan bidang Perhubungan Udara (Adikarya Dirgantara Pralabda). Adikarya Dirgantara Pralabda merupakan suatu penghargaan tertinggi kepada insan perhubungan udara yang dianggap telah berjasa dan sebagai apresiasi terhadap sikap daya juang kepahlawanan.

“Saat saya di TV, saya bilang beliau ini layak jadi pahlawan nasional. Tapi sudah diluruskan dianugerahi penghargaan dan dimakamkan di TMP. Tetapi bagi saya dia tetap pahlawan,” tegasnya.

Menurut Kapten Mafella, dalam dunia aviasi dirinya selalu katakan bahwa semuanya adalah aviator. Dan ATC sangat bertanggung jawab atas nyawa jutaan orang di langit untuk mengawasi setiap pesawat.

Tanggung jawab itu sudah dibuktikan oleh Anthonius Gunawan Agung yang mungkin saja bisa menyelamatkan diri atau melepas komunikasi dengan Batik 6321.

“Di kontrak pilot itu yang diisi kami siap ditempatkan dimana saja, yang kedua siap mati. Saya yakin teman-teman juga begitu, anda bekerja di dunia aviation, yang pertama dituntut adalah nyawamu demi orang lain,” tutupnya.(***)

Editor : Mugni Supardi
#Adikarya Dirgantara Pralabda #aviasi #aviator #Hari Bakti ATC Indonesia #Anthonius Gunawan Agung #stasiun ATC #Bandara Mutiara Palu #Kantor Airnav Cabang Pembantu Palu #Tribute to Guardian Sky #Pesawat Batik Air #Direktur Operasi Perum LPPNPI #Kapten Ricoseta Mafella #Taman Makam Pahlawan #pesawat Batik Air 6321 #Ketua Umum IATCA Suwandi #Batik 6321 #Panaikang Makassar #ATC #Tanda Penghargaan bidang Perhubungan Udara #28 September 2018 #TMP #pemandu lalu lintas udara #gempa Palu #Kapten Mafella #ATC Makassar